Berita

Tawaf Wada Sastra Lisan

Tawaf Wada Sastra Lisan
Jamaah China dan Jawa di prosesi haji dan tawaf wada.

Keterlibatan aktif di dunia sastra lisan membuat terawang ke belakang. Flashback ketika berdiri di pagar lantai tertinggi Mesjidil Haram saat itu 2007. Jam-jam terakhir akan tawaf wada. Yakni tawaf perpisahan dengan Baitullahil Haram sebagai kiblat salat kaum muslim dan muslimat seantero dunia sepanjang zaman.

Menatap pergerakan jamaah yang berputar mengelilingi medan maghnet paling eksentrik dan nyentrik sepanjang sejarah peribadatan kepada Tuhan. Memutar dari kanan ke kiri. Clockwise. Kebalikan dengan arah jarum jam seolah melawan perputaran waktu alias momentum introspeksi diri seraya melafalkan tasbih (puji-pujian), doa (penuh harapan) sekaligus istighfar (permohonan ampun atas segala kesalahan).

Di ketinggian menatap kembali multhazam yang sakral di mana para nabiullah menyandarkan pipi dan dadanya memohon pertolongan dan kasih sayang-Nya. Serasa mencium batu surga Hajarul Aswad dan memasuki ka’bah walau hanya salat dua rakaat di bawah pancuran emas Hijir Ismail. Maupun Maqom Ibrahim.

Saya suka kelopak bunga yang mekar ketika jamaah ihram bangkit dari ruku’. Gerakan massif bagaikan kelopak mawar mekar. Atau bunga matahari yang ekslusif itu…membakar. Penuh gairah keimanan. Ghiroh Ubudiyah. Spirit uluhiyah.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *