Di antara pemandangan indah itu saya baru sadar ada dua peristiwa sastra lisan yang terjadi. Luput dari pengetahuan saya ketika itu. Termasuk membersamai Haji Akbar 2014. Serombongan jamaah haji asal China melaksanakan prosesi akhir tawaf wada dengan bergandengan tangan di baris paling pinggir berompi biru langit mereka – khas serta jilbab muslimahnya yang hitam terjuntai mirip kotak.
Mereka seperti tim sepak bola yang bergerak mundur ke belakang step by step. Langkah demi langkah seraya mendendangkan takbir, tahlil, tahmid dan sholawat.
Pergerakan mundur ini tidak ada dalam syari’at haji atau tawaf wada melainkan etika ketimuran mereka. Adat dan kesopansantunan mereka. Standar akhlakul karimah mereka. Simbolik kecintaan dan penghormatan kepada rumah Allah. Rumah yang juga metafora tentu saja. Sebab Allah tak butuh rumah …Istananya adalah Arsy. Ka’bah hanya simbol dari Baitul Makmur yang ditawafi 70 ribu malaikat setiap hari dan sekali datang untuk berganti setiap saat tanpa pernah kembali.
Selalu baru, baru dan baru. Di mana Nabiullah Ibrahim salat dan bersandar di sana. Dan ditemui Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam saat isra mi’raj.
Peristiwa etika jamaah China adalah peristiwa sastra lisan. Seperangkat nilai yang dikerjakan atas pesan-pesan tetua terdahulu yang bersifat universal.
