Selain itu, yang sanggat kami tunggu adalah momen saweran. Momen saweran, anak bayi akan ditutup mengguanakn keranjang kurungan ayam, kemudian kami berkumpul didekat keranjang tersebut, beras kuning yang sudah dicampur uang logam (koin) akan ditabur-taburkan ke arah kami. Dan kamipun berebut memungutnya. Kami senang walaupun hanya dapat 50-500 rupiah saja dulu.
Pagi ini, saya mendapat kiriman bungkusan nasi, urap, sambal tahu, bihun goreng, kerupuk plus peyek teri dari Bu Pailah yang tinggal di Desa Olak-Olak Kubu. Beliau membuat banca’an sebelum memulai nandor padi atau menanam padi.
“Mbak, ini titipan dari Mae”, kata Pak Sumardi suami Bu Pailah yang juga bekerja di Kantor Camat Kubu.
Menurut Pak Mardi, tradisi banca’an selalu istrinya lakukan sebelum menanam padi. Katanya banca’an dilakuakan sebagai bentuk permohonan do’a agar proses menam padi berjalan lancar.
Bungkusan nasi lengkap beserta lauk-pauk akan dibawa ke ladang, kemudian dibacakan doa memohon kelancaran sebelum menanam padi, kemudian nasi tersebut akan dimakan bersama-sama warga yang membantu menanam padi di ladang. Semoga saja proses menanam padi Bu Pailah akan diberi kelancaran hingga hasil panen yang berlimpah nantinya. Amin…
