Setiap hari ia menyisihkan keuntungan dari menjual ikan untuk mencicil motornya. Setelah disisihkan untuk belanja ikan tiap sore, sisanya ia gunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya bersama sang suami, Murjani (33 tahun) dan kedua anaknya, Mega (11 tahun) dan Rizky (6 tahun). Mega baru masuk SMP tahun ini, dan adiknya Rizky baru masuk SD. “Ada juga yang saya tabung, walaupun tidak banyak,” kata Bu Desi.
Sebelumnya, Bu Desi juga berjualan ikan keliling dengan berjalan kaki. Dari rumahnya di Kakap ia naik oplet, dan turun di simpang Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo-Jalan Husein Hamzah. Bawaannya tetap sama dari dulu: dua buah ember putih bekas tempat cat ukuran 20 kg yang tertutup rapat untuk menjaga kesegaran ikan-ikan yang dijualnya.
Ia bertekad membeli sepeda motor setelah melihat prospek jualan ikannya. Ditambah faktor makin jarangnya oplet yang melayani trayek dari rumahnya ke daerah ‘teritorial’ jualannya.
Tiap sore, ia dan suaminya yang memang berasal dari Sungai Kakap dan bekerja di bagan selalu menunggu kapal-kapal nelayan yang tiba dari melaut. Tak banyak jenis ikan yang mereka beli. Ikan yang sudah dibeli disimpan di box stereoform ukuran sedang dan diisi es batu untuk menjaga kesegarannya, karena akan dijual keesokan paginya.
