Dengan perkiraan produksi 12 ton, dan harga gabah kering Rp 5.000,-, maka diperkirakan produksi akan senilai Rp 60 juta. Dipotong biaya produksi 25-30 juta, desa masih bisa mendapat untung sekitar Rp 30-35 juta. “Keuntungan inilah yang nanti akan dibagi merata kepada seluruh warga Desa Kelakar,” sambung kades yang enerjik ini. “Bagaimana kalau sekiranya kerawanan pangan ini tidak terjadi, Pak Kades?” tanya saya. “Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah. Sisa keuntungan dari produksi ini akan kita simpan sebagai lumbung pangan desa atau skema lainnya hasil kesepakatan bersama pengurus dan warga desa,” jawab Sahrani lugas, sambil menunjuk beberapa bangunan huma di tepi sawah milik para pemilik lahan yang juga sudah setuju huma mereka dipergunakan sebagai lumbung desa.
Inovasi Desa Kelakar Hadapi Kerawanan Pangan
