Hasil panen yang diperkirakan akan dilakukan Agustus mendatang, 20% akan menjadi milik ketujuh pemilik lahan. 80% selebihnya dibagi dua: 32% utk yang menggarap lahan, mulai dari penyiapan lahan, menanam hingga panen nanti; dan 48% akan menjadi milik desa. Semua input produksi berupa penyiapan lahan, pupuk, bibit, dan tenaga kerja serta biaya operasional lainnya disediakan oleh desa. “Kami sudah mengalokasikan 25-30 juta utk program antisipasi kerawanan pangan ini,” jelas Pak Kades Sahrani ketika kami bertemu akhir Juni lalu. Tak puas menjelaskan di kantor desanya yang saat itu ramai karena ada pertemuan rutin bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari TNI dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polri, kades muda ini mengajak saya dan Bang Tsafiuddin, konsultan tata ruang dari WWF untuk melihat langsung ke sawah tempat lokasi penanaman padi untuk mengantisipasi kerawanan pangan ini.
Inovasi Desa Kelakar Hadapi Kerawanan Pangan
