Sampai tempat tujuan, aku segera dibawa ke UGD. Di tensi.
Astaghfirullah.. 250/130.
Juga di EKG untuk periksa jantung, sesuai saran anak sulungku.
Segera ditangani dokter. Langsung di rawat.
Aku telepon istriku. Tak lama istriku datang. Aku telepon mas Dion Supardiono, sekedar pemberitahuan kalau ada urusan kantor tolong diatasi dulu. Sembari berpesan, “jangan kasih tahu siapapun.”
Lalu datang Jimmy: Kucluck Ajah dan istrinya: Devyy. ‘Anak buah’ yang ditugaskan oleh mas Dion, karena dia belum sempat datang sore atau malam nanti.
Malamnya aku non aktifkan 2 akunku. Jujur saja, yg ada di benakku, kalau ‘ada apa-apanya’ aku tak meninggalkan status-status di fb, yang siapa tahu ‘tidak berkenan’ di hati beberapa atau bahkan banyak teman.
Istriku menelepon adikku di Jawa, Ratna Pamudji. Juga abang dan adik-adik iparku yang kesemuanya sedang tidak berada di Pontianak.
Di cairan infus yang digantung di sebelah tempat tidur (ada dua jenis) aku lihat cairan menetes satu-satu. Seperti malaikat sedang menghitung dosa-dosaku.
Sekitar jam delapan malam, dokter ruangan menghampiriku. Menanyakan keadaanku. Kalau tak salah namanya dokter Dessy.
Perawat datang mengantarkan entah berapa macam obat yg harus segera kuminum.
Jam 10 malam lewat dokter yang menanganiku: Dr. Petrus Hasibuan, SpPD datang ke ruanganku: VIP Sydney di lantai 5.
Tensiku sudah mulai turun. Tapi masih seputaran 200/100.
Malam terasa begitu panjang..
