in

Ketika Bang Baskoro Sakit

bang baskoro

Sejak pulang ke Pontianak karena sakit di Jakarta, hari Senin tanggal 11 September yll, aku lebih banyak istirahat di rumah.

Hari Rabu sore, dua hari yg lalu, selepas sholat ashar, aku telepon seorang teman untuk mengantarkan ke beberapa tempat karena beberapa urusan kecil.
Di Jl. Gajahmada, di kantor bank BNI aku singgah untuk ke ATM.

Ketika itulah, tiba2 badanku terasa melayang. Aku berpikir pasti tensiku naik lagi. Tapi aku tidak habis makan apa-apa yang bisa menyebabkan tensi naik. Juga aku sedang tak memikirkan apa-apa yg bisa memicu penyakitku yang satu ini kambuh. Aku peluk mesin ATM sehingga aku tidak terjatuh. Keluar dari ruang ATM, kutelepon anakku yg sedang berada di Jakarta. Aku ceritakan masalahku. Juga kedua telapak kakiku yang tiba-tiba saja dingin.

“Itu berarti peredaran darah ke kaki terhambat. Papa tensi dulu, terus EKG. Segera.”
Aku minta antar ke laboratorium bio medis sebelah super market Ligo Mitra. Minta untuk di tensi. “Tidak ada, Pak. Coba ke apotik Bintang di sebelah,” kata petugas.
Di apotik Bintang, juga sama tak menyediakan pelayanan tensi. Lalu ke 2 apotik lagi, masih di Jl. Gajahmada. Jawabannya sama. Akhirnya di apotik Jaya, aku bisa melakukan tensi. Begitu turun dari kendaraan, jalanku sudah sempoyongan. Hampir jatuh. Beruntung aku tersandar di pintu apotik.
Petugas mulai memasang alat tensi. Lalu beberapa saat kemudian, “Error, Pak. Kita coba lagi ya.”
Sekali lagi, error lagi. “Ke UGD RS Kharitas Bhakti saja Pak. Di Jl. Siam. Dekat dari sini.”
Tak membuang waktu lagi aku minta temanku memacu kendaraan ke Jl. Siam. Di kursi depan kendaraan, aku berdoa sebisanya.

Baca Juga:  Bangun Masjid Para Mualaf

Sampai tempat tujuan, aku segera dibawa ke UGD. Di tensi.
Astaghfirullah.. 250/130.
Juga di EKG untuk periksa jantung, sesuai saran anak sulungku.
Segera ditangani dokter. Langsung di rawat.
Aku telepon istriku. Tak lama istriku datang. Aku telepon mas Dion Supardiono, sekedar pemberitahuan kalau ada urusan kantor tolong diatasi dulu. Sembari berpesan, “jangan kasih tahu siapapun.”
Lalu datang Jimmy: Kucluck Ajah dan istrinya: Devyy. ‘Anak buah’ yang ditugaskan oleh mas Dion, karena dia belum sempat datang sore atau malam nanti.

Malamnya aku non aktifkan 2 akunku. Jujur saja, yg ada di benakku, kalau ‘ada apa-apanya’ aku tak meninggalkan status-status di fb, yang siapa tahu ‘tidak berkenan’ di hati beberapa atau bahkan banyak teman.
Istriku menelepon adikku di Jawa, Ratna Pamudji. Juga abang dan adik-adik iparku yang kesemuanya sedang tidak berada di Pontianak.

Di cairan infus yang digantung di sebelah tempat tidur (ada dua jenis) aku lihat cairan menetes satu-satu. Seperti malaikat sedang menghitung dosa-dosaku.
Sekitar jam delapan malam, dokter ruangan menghampiriku. Menanyakan keadaanku. Kalau tak salah namanya dokter Dessy.
Perawat datang mengantarkan entah berapa macam obat yg harus segera kuminum.
Jam 10 malam lewat dokter yang menanganiku: Dr. Petrus Hasibuan, SpPD datang ke ruanganku: VIP Sydney di lantai 5.
Tensiku sudah mulai turun. Tapi masih seputaran 200/100.
Malam terasa begitu panjang..

Baca Juga:  Suara Petani - Suara Rakyat

Pagi-pagi sekali perawat berjilbab (padahal ini rumah sakit kalau tak salah milik yayasan Tionghoa) sudah datang untuk melakukan tensi. 180/90. Aku agak tenang.
Dokter Petrus datang lagi sekitar jam 10 siang, dengan senyumnya yang bersahabat. Seperti banyak Hasibuan teman-temanku: ramah.
Di tensi lagi: 170/90.
Sekitar jam 12:00, sohibku M Indrayadi dan istrinya Haniyah Indrayadi, datang membezoek. Tak lama sohibku yang lain, mantan mahasiswaku: Indrawan dan istrinya, juga datang.
Entah dari mana mereka tahu aku dirawat.
Sangat terhibur dengan kedatangan mereka berempat. Sekitar jam 2 sore, mas Dion datang memberi semangat untuk sembuh.
Sorenya, teman-teman istriku datang. Ramai. Serasa aku tidak berada di rumah sakit. Tapi seperti sedang reuni alumni SMPN3 Pontianak. Ada Muhammad Sanawani, ada Eliza Deliyanti, ada Angki Karyati, ada Sri Mulyati, ada Yaya Caloh, Ina, Nuraida Ida dan entah siapa lagi.

Malamnya, perawat datang lagi, ditensi lagi: 160/80. Lebih tenang tidurku tadi malam.
Tadi pagi-pagi sekali, perawat berjilbab asal Sanggau yang kemarin datang lagi. Tensi lagi 150/80. Hati benar2 senang. Karena belum pernah aku punya tekanan darah seperti itu. Selalu bermain2 di kisaran 170/100, 180/90,190/100, 200/100 bahkan kadang lebih.

Baca Juga:  Dari Rusen Dengan Gunta Wirawan

Aku menyadari ada yg tak beres dengan pola hidupku.
Jam setengah 9 tadi pagi dokter Petrus datang lagi, menanyakan bagaimana keluhan dan sebagainya. Sebelumnya ditensi lagi sama perawat: 140/70.
“Kalau mau pulang siang ini, sudah boleh Pak..” kata dokter.
Bukan main senangnya hati. Karena sungguh tidak menyangka akan secepat ini boleh meninggalkan RS. Perkiraanku minimal 5 hari. Karena 2 tahun lalu, dengan penyakit yang sama aku dirawat sampai 10 hari di RS. Hanya memang waktu itu, syaraf tangan dan kaki kiri ikut terkena ‘masalah’.

Tak menunggu lama, aku bereskan semuanya. Dan segera pulang..
Alhamdulillah..
(Teriring ucapan terima kasih kepada semua teman yg ‘berteman dg hati’. Yg mudah2an selalu mendoakanku sebagaimana aku juga mendoakan teman2 semua).(*Dikutip dari FB Baskoro Effendy)

Written by teraju.id

subuh menggapai berkah

Jangan Berselisih, Hindari Perdebatan, Ada Jaminan Surga

wajidi sayadi

Bolehkah Shalat Pakai Masker?