Temanya beragam, kaya akan pendekatan dan strategi dalam mengatasi berbagai dinamika di lapangan. Diawali kisah konservasi badak di Ujung Kulon pada 1962 sebagai awal aksi konservasi WWF di Indonesia, buku ini mencoba memaparkan perjalanan WWF mengembangkan paradigma konservasi secara terpadu, berbasis riset dan penelitian guna merumuskan strategi konservasi yang lebih mendalam dan utuh.
WWF juga memberi masukan bagi pengelolaan kolaboratif taman nasional, yang menegaskan posisi dan peran masyarakat sebagai aktor kunci pengelolaan kawasan yang efektif. Di beberapa lokasi, WWF juga melakukan pemetaan partisipatif sebagai alat menuangkan kawasan-kawasan yang bernilai penting tidak hanya secara ekonomi, melainkan juga ekologi, sosial, kultural, dan spiritual bagi masyarakat.
Pesannya jelas: kearifan lokal dan adat adalah komponen penting pengelolaan SDA dan kawasan konservasi. Selain itu, pemanfaatan jasa lingkungan juga menjadi dasar bagi masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan yang lebih adil dan lestari.
WWF tidak selamanya hadir dan bekerja di satu wilayah tertentu. Karenanya, dalam buku ini kami juga menghadirkan cerita upaya WWF melakukan strategi pengakhiran program. Strategi itu mencakup advokasi kebijakan hukum formal guna menguatkan peran masyarakat termarjinal, dan mengembangkan organisasi dan kepemimpinan di tingkat lokal. Strategi lainnya adalah mendorong dunia usaha dan pelaku bisnis di tingkat masyarakat mengadopsi prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
