Aku jadi teringat ketika kunjungan muhibah ke Sarawak tahun 2003 lalu. Saat itu, Pak Lacik juga mendemonstrasikan kebolehannya menari setelah jamuan makan malam oleh pengelola Taman Negara Batang Ai. Ia menari di hadapan pimpinan, staf, dan beberapa wakil masyarakat di sekitar Batang Ai. Ketika gerakan tarian sudah selesai, ia didaulat terus menari, kali ini diikuti beberapa tokoh masyarakat Iban yang tinggal di dalam kawasan Batang Ai.
Pak Basyah dari Kayan Mendalam juga ikut menari, menghangatkan malam kami yang panjang. Jadilah sebuah harmoni tarian Punan, Iban, dan Kayan malam itu. Negara yang berbeda, suku pun berbeda, tak menghalangi mereka terus menari. Satu saudara, beda bendera.
Ternyata, di halaman sekolah itulah terakhir kalinya aku bisa menikmati keanggunan menari Pak Lacik. Beberapa tahun kemudian, ia wafat. Terima kasih Pak Lacik, untuk banyak contoh keramahan, kesederhanaan, kegigihan memperjuangkan hidup, dan mempertahankan tradisi budaya.
Silaturahim warga Desa Bungan Jaya dengan bupati dan wakil bupati ini dimanfaatkan warga untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sebagian besar tentang fasilitas dasar: listrik, instalasi air bersih, sarana telekomunikasi, pendidikan, dan kesehatan.
Sederhana, tak muluk, tapi inilah hal-hal mendasar yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup warga di sini. Meminta negara hadir bersama mereka yang tinggal di hulu sungai dan di tengah hutan.
