in

Mesjid Kapal – Wakaf Produktif 1 Kavling Menjadi Rp 150 Miliar

mesjid kapal munzalan mubarakan
Foto Munzalan Tower

Oleh: Nur Iskandar

Ini kisah wakaf paling unik di Kalimantan Barat. Adalah seorang laboratoris di Puskesmas Gang Busri–dekat sekali dengan Perguruan Islamiyah si wakaf tertua Kota Pontianak, berdiri 1925–bahkan juga alumni dari SMP Islamiyah bernama Nurmasyitah Hasan. Sepulang menunaikan ibadah haji dasawarsa pertama millenium kedua mengalami luka lambung. Ia berak darah dan merasakan bahwa ajal telah hadir di depan matanya.

“Mumpung masih hidup dan dalam kondisi ‘full spirit’ sepulang haji dan umrah–mabrur insya Allah–semoga. Saya berniat wakaf atas warisan tanah yang diterima dari kedua orang tua. Lokasi kavling di Sungai Raya Dalam. Aku merasa tak lama lagi. Aku wakafkan tanah sekavling di dekat Madrasah Ibtidaiyyah Imaduddin. Biarlah anak-anak sekolah di MIS Imaduddin bisa sholat duha di sana,” katanya.

Niat itu pun direalisasikan dengan dibangunnya mesjid kapal atas uluran tangan ibundanya Hj Halijah Binti Haji Muhammad Sholeh yang mendonasikan dana Rp 200 juta bagi terwujudnya Mesjid Kapal di atas tanah wakaf Hj Nurmasyitah Hasan Bin Haji Abdurrahman bin Haji Muhammad Noor bin Haji Daeng Sagoni. Dalam setahun Mesjid Kapal itu pun rampung. Oleh saudara kandung Hj Nurmasyitah Hasan yakni H Muhammad Nur Hasan diberikanlah nama Mesjid Kapal itu dengan nama Munzalan Mubarakan. Sebuah nama dari bait doa Nabi Noah alias Nuh Alaihissalam ketika kapalnya berlayar di antara gelombang banjir akbar sekaligus tanda bahwa Tuhan murka kepada kaum pendurhaka lewat untaian emas doa bernas sbb: “Robbi anzilni Munzalan Mubarakan — wa-anta khoirul munzilin.” (Arti harfiahnya Wahai Tuhan kirimkanlah aku rizki yang terbaik yang Engkau berkahi, sebab sesungguhnya hanya Engkaulah sebaik-baik pemberi rizqi.)

Baca Juga:  Seharian Bersama Abroorza A.Yusra

Mesjid Kapal Munzalan dikelola oleh Muhammad Nur Hasan bersama alumni Gontor, Ustadz muda belia bernama Lukmanul Hakim. Ibarat pucuk dicinta-ulam pun tiba. Perpaduan wakaf ditambah infak dan shodaqoh, dikelola dengan manajerial mesjid yang apik, baik, lagi profesional, ditumbuhkan dengan program mutual hasilnya mencengangkan.

Kemarin, Minggu, 21/11/20 Ustadz Rendy Saputra menyebutkan dalam laman media sosial miliknya, bahwa, “Gerakan Infaq Beras atau GIB, rekapitulasi bulan Oktober memasuki angka 610 ton, menyuplai 3000-an Pondok Pesantren, menyentuh kurang lebih 250 ribu santri.” Masya Allah ‘rrrruar biasah’ energi kinetik daripada radikal bebas wakaf yang ‘nyawa boleh putus, tetapi pahala mengalir terus’. “Idza matabdu Adama inqothoa’amaluhu illa min tsalasin…..” (Hadits Rasulullah SAW, tidaklah putus amal ibadah anak cucu Adam kecuali tiga perkara….). Pertama sedekah jariyah yakni wakaf. Kedua ilmu yang bermanfaat. Ketiga, adalah anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Kiyai Luqman dkk, lanjut Ustadz Randy Saputra mengasuh Masjid Kapal Munzalan. Membangun hampir 500 santri penerima amanah. Mengirim puluhan kader untuk belajar di Gontor. Membangun pertumbuhan asset wakaf hingga kisaran 150M (audit terakhir).

Inilah mesjid kapal yang menarik perhatian kawula muda sampai berbagai penjuru dunia, di mana GIB telah mekar sampai Palestina (Gerakan Infak Gandum),

Baca Juga:  Sinergi Kegiatan BPDASHL Kapuas

Melbourne (Australia), dan juga negeri K-Pop Korea. Mesjid Kapal Munzalan menjadi mesjid idola Nusantara dalam waktu sekejab. Yakni 2012-2020. Lebih kurang satu windu dari satu dasawarsa Millenium Kedua.

Munzalan Mubarakan mesjid di lorong sempit Sungai Raya Dalam lebih kurang 700 meter dari Perempatan Ahmad Yani – Polda – Taman Kubu Raya Menanjak menarik mata wakif dan nazir se-Nusantara sebagai sebuah dealektika ibadah sholat, puasa, zakat, infak, shodaqoh maupun wakaf produktif.

Di lorong sempit anak muda memadu kreasi hingga berdiri Munzalan Tower enam lantai. Sebuah mesjid tertinggi di Kalimantan Barat dan mungkin se-Kalimantan.
Masjid di lorong sempit Kubu Raya-Pontianak, Kalimantan Barat, ini telah menjadi cahaya mata sekaligus sayap dakwah dari barat Kalimantan Timur yang telah dicanangkan Pemerintah RI, Presiden Republik Indonesia Bapak Ir H Joko Widodo sebagai Ibukota Negara setelah Jakarta.

Wakaf pahalanya tiada putus, walaupun nyawa telah lepas dari raga. Begitupula sebaliknya, wakif Hj Nurmasyitah Hasan ternyata bukan malah sakit traumatik dan nyawanya terputus, justru sembuh dan bisa menikmati aneka pertumbuhan energi kawula mudah di atas tanah wakafnya. Begitupula dari wakaf satu kavling itu telah melahirkan ratusan bahkan ribuan wakif lainnya lewat wakaf uang (tunai) yang dikelola Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan demi membebaskan tanah, membangun tower, membangun berbagai sayap-sayap lembaga. Termasuk di antaranya tata kelola uang profesional menuju Bank Islam–yakni Baitul Munzalan Indonesia atau BMI.

Tak sedikit kisah muslim-muslimat “beruguk-ruguk” mewakafkan tanah dan rumah-toko miliknya lewat berbagai alur wakaf produktif sesuai UU Wakaf No 41 Tahun 2004 ke Munzalan Mubarakan ibarat sepasang-sepasang makhluk yang diselamatkan Nabi Nuh ke dalam kapal Munzalan Mubarakannya. Begitupula doa Nabi Nuh AS pun terijabah lewat kaifiat nama Munzalan Mubarakan di mesjid Kapal Serdam. Masya Allah sebuah cahaya berkilat terang benderang di tengah langit yang kian gelap.
Ketika kita hadir sholat dan mendengarkan uraian hikmah syariah Islam di Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan ini serta merta damai segera membuncah di dalam hati. Kenapa bisa demikian? Karena imam dikader dengan tajwid yang hebat, dengan lagu yang mendayu-dayu sehingga sanggup menderai-beraikan air mata setiap makmumnya. Ibarat kita hadir sholat berjamaah di Mekah atau Madinah. Dan untuk melebarkan rasa khusuk itulah lahir Gerakan Subuh Akbar sekaligus Sedekah Akbar. Allahu Akbar!

Baca Juga:  Ibadah Sosial Melalui Zakat

Kawan-kawan sekalian. Jika kita masuk ke lingkungan Mesjid Kapal Munzalan, kita ditangkap cahaya bahagia. Kenapa? Lingkugannya bersih. Sandal sehadap ke muka keluar mesjid tanda tertata. Atribut papan nama terpampang di mana-mana. Nasihat dan petuah terpajang. Unit usaha berkembang. Pokoknya siplah. Mesjid Kapal Munzalan menjadi oase kehidupan luar sana yang gersang. Sebuah titik cahaya yang membangunkan cahaya laksana kunang-kunang di tengah malam. Duhai indahnya wakaf jika dibalut nazir profesional. (Penulis adalah pegiat literasi wakaf dan wakaf literasi, anggota Badan Wakaf Indonesia bidang wakaf produktif. No kontak-WA 08125710225).

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

munzalan

NULAR, mudah-mudahan

flayer aksi.1

Pelatihan dan Pendampingan Usaha Berbasis Keuangan