Community

Naskah tentang Kampung Halaman

Naskah tentang Kampung Halaman

Rusa berusaha berdiri sendirian, di tengah payak tanpa rimbun, matanya berkerjap memelas. Atek Nuri mengambil ancang, tembakan kedua akan melumpuhkannya sama sekali.

Sekali lagi, suara tembakan memecah sunyi di payak layang, tak sempat lagi terkejut Rusa bertanduk melengkung indah itu sudah terkapar, hanya tersisa leguhan pendek-pendek yang keluar dari tenggorokannya

“Cepat…” Lelaki pembawa serampang, parang dan tuar gegas menuruni lembah, menyusul Atek Nuri yang telah 10 langkah di depannya, ada pekerjaan menunggu, dan dia tak pernah suka, tapi mesti dia lakukan. Kali ini.

Sesampai di dekat buruannya, Atek Nuri segera meminta parang tapi urung

“sekali ini kau yang sembelih”

“tapi…”

“Kau tak pernah mau” Atek Nuri mendengus “cepat!” perintahnya, telunjukna menunjuk leher Rusa, darah mengalir deras dari sana. Si Pemuda masih enggan, bertahun mengikut perburuan berdua atau kadang sekelompok yang dipimpin Atek Nuri, Benibui tak sekalipun mau menyembelih tangkapan mereka.

Benibui tak pernah membuka Mulutnya tiap kali dipaksa atau diejek, dia menyimpan alasannya sendiri. Tiap detik parang digenggamnya erat, memberanikan diri, tiap detik itu pula dia terkenang pasangan rusa yang dilihatnya waktu kecil dipondok ladang bersama sang ibu, tiap mahluk berpasangan