Malam itu, sambil duduk nonton FTV, mereka kembali membicarakan pengalaman wawancara yang baru pertama kali diikuti untuk melamar pekerjaan. Mereka juga mereka-reka apa yang akan ditanyakan Pak Direktur besok pagi.
Sesuai dengan yang dijadwalkan, pemuda itu kembali memasuki ruang direktur.
“Mari kita lanjutkan wawancara kemarin. Nah, apa yang engkau lakukan di rumah, kemarin?” Kata direktur tanpa basa-basi lagi.
“Telapak tangan emak saya raba. Saya perhatikan engan seksama. Kemudian saya cuci bersih. Saya raba kembali dan saya amati dengan cermat tiap detail guratannya”. Pemuda itu nenarik napas panjang.
Direktur melihat air mata si calon kepala bagian itu mulai menetes. “Apa yang engkau rasakan?”
“Saya merasakan emak kerja keras membanting tulang untuk bertahan hidup dan menyediakan biaya dan pendidikan saya” Jawab pemuda itu terbata-bata.
Direktur menyodorkan segelas air aqua, sambil berkata: “Ceritakan pelajaran apa yang engkau dapat dari peristiwa kemarin itu”
“Ada tiga hal yang saya peroleh. Pertama, arti dari sebuah penghargaan. Saya melihat kebahagiaan emak ketika telapak tangannya saya raba dan saya bersihkan. Saya juga merasa harus berterima kasih kepada emak. Kerja kerasnya membuat saya dapat menyelesaikan pendidikan”
