in

Orang Muda yang Sedang Melamar Kerja

leo

Oleh Dr Leo Sutrisno

Pada suatu siang, seorang pemuda berpakaian rapi memasuki ruang direktur sebuah perusahaan multi-nasional untuk melakukan wawancara. Ia sudah lolos dari seleksi tahap-tahap sebelumnya. Kali ini tahap akhir, tahap yang menentukan apakah ia bakal diterima atau ditolak.

Setelah berbasa-basi sejenak untuk membuka perbicaraan, Pak Diretur berkata: “Saya sudah mempelajari seluruh berkas amaranmu. Termasuk, riwayat perjalanan pendidikanmu. Sejak SD selalu menduduki urutan tertinggi di kelas. Bahkan sejak SMA hingga tingkat magister, selalu menerima bea siswa. Sungguh mengesankan”.

Setelah menyeruput sedikit air minum, Pak Direktur melanjutkan: “Ooo, IPK S-1 dan S-2, kedua-duanya, 4.00. Luar biasa”. Berhenti untuk menggeser letak kacamatanya. Lalu, lanjutnya: “Apa pekerjaan ayahmu?”

“Ayah telah meninggal ketika saya berusia dua tahun, Pak” Setelah sedikit menelan ludah serta menarik napas panjang, “Saya diasuh. Ia tukang cuci panggilan dari rumah ke rumah. Dari upah itu digunakan untuk membiayai hidup kami dan menyekolahkan saya, Pak”

Sambil mendengarkan Pak Direktur memperhatikan pakaian si pelamar posisi menejerial ini. ‘Sederhana, tetapi ditata rapi’, gumannya.

“Coba saya lihat telapak tanganmu, anak muda!”. Sejenak ia perhatkan telapak tangan anak muda yang duduk tegang di depannya.

“Baik. Pernahkah Anda membantu Emak, sesekali, mencuci pakaian pelanggan?” Lanjutnya.

“Tidak pernah, Pak! Emak tidak mengijinkan. Saya disuruh belajar atau membaca buku saja. Kata Emak, ia sudah senang jika saya dapat sekolah terus setinggi mungkin”.

“Wawancara hari ini sudah selesai. Pulanglah!. Periksalah telapak tangan emakmu, nanti!. Besok pagi pukul 09:00 kembalilah ke sini!. Ceritakan apa isi perasaanmu setelah memeriksa telapak tangan itu. Sekali lagi, besok pukul sembilan di ruang ini. Langsung temui saya”.

Baca Juga:  Seharian Bersama Abroorza A.Yusra

Dengan gontai ia meninggalkan ruang direktur. Walau tidak lebih dari sepuluh menit, pemuda ini merasa sudah kehabisan keringat.

Sesampai di rumah pemuda itu menceritakan apa yang terjadi dalam wawancara tadi kepada emaknya. Lalu ia meminta ijin untuk melihat telapak tangan emaknya. Walau agak kurang enak, si emak menunjukkan kedua telapak tangannya.

Telapak tangan diraba-raba, kemudian dicuci sampai bersih dan berulang kali diraba kembali. Beberapa tetes air mata membasahi pangkuan emaknya.

Ia merasakan, telapak tangan emaknya yang berkeriput-keriput. Banyak juga garis-garis yang memerah karena luka. Ia merasakan betapa pedih telapak tangan itu ketika sedang mengilas pakaian yang dicucinya.

Ketika si emak istirahat tidur siang, ia diam-diam mencuci dan menyetrika pakaian pelanggan yang diambil hari hari ini. Tidak terkecuali pakaian emaknya.

Malam itu, sambil duduk nonton FTV, mereka kembali membicarakan pengalaman wawancara yang baru pertama kali diikuti untuk melamar pekerjaan. Mereka juga mereka-reka apa yang akan ditanyakan Pak Direktur besok pagi.

Sesuai dengan yang dijadwalkan, pemuda itu kembali memasuki ruang direktur.

“Mari kita lanjutkan wawancara kemarin. Nah, apa yang engkau lakukan di rumah, kemarin?” Kata direktur tanpa basa-basi lagi.

“Telapak tangan emak saya raba. Saya perhatikan engan seksama. Kemudian saya cuci bersih. Saya raba kembali dan saya amati dengan cermat tiap detail guratannya”. Pemuda itu nenarik napas panjang.

Direktur melihat air mata si calon kepala bagian itu mulai menetes. “Apa yang engkau rasakan?”

“Saya merasakan emak kerja keras membanting tulang untuk bertahan hidup dan menyediakan biaya dan pendidikan saya” Jawab pemuda itu terbata-bata.

Baca Juga:  Menyerah Hormat

Direktur menyodorkan segelas air aqua, sambil berkata: “Ceritakan pelajaran apa yang engkau dapat dari peristiwa kemarin itu”

“Ada tiga hal yang saya peroleh. Pertama, arti dari sebuah penghargaan. Saya melihat kebahagiaan emak ketika telapak tangannya saya raba dan saya bersihkan. Saya juga merasa harus berterima kasih kepada emak. Kerja kerasnya membuat saya dapat menyelesaikan pendidikan”

Setelah menarik napas panjang lagi, pemuda itu melanjutkan, “Kedua, arti dari suatu kerja sama. Di malam hari, tidak seperti biasanya, kami berdua dapat duduk santai bersama sambil nonton TV. Karena, sebagian pekerjaan emak, walau terasa berat, sudah saya selesaikan kamarin sore. Emak pun dapat istiarahat dengan cukup”

“Ketiga” lanjutnya, “Arti dari kekeluargaan. Kemrin saya tanpa beban membantu menyelesaikan perkerjaan emak. Sore hari kami berdua dapat lebih santai daripada hari-hri sebelumnya. Saya di kamar, belajar. Emak di di belakang mencuci atau setrika”

“Ini yang saya cari. Saya memerlukan orang yang dapat menghargai suatu bantuan, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, dan seseorang yang tidak hanya menempatkan uang sebagai tujuan untuk menjadi manegjer di perusahaan ini”

“Engkau lolos. Saya terima! Selamat datang di perusahaan ini anak muda!” Ucap Deriktur sambil menjabat tangan pemuda itu dengan hangat sambil menepuk pundaknya.

Belakang di kemudian waktu, peusahaan ini menerima perhargaan dari banyak pihak. Tidak saja dari segi keuntungan yang besar tetapi juga kepemimpinan yang transformatif yang diterapkan oleh pemuda ini.

Salam dari Pakem Tegal, Yogya, 27-8-2020

Leo Sutrisno.

Written by Leo Sutrisno

forum dayak kalbar jakarta

Dayak Kalbar: Siapa Suruh Datang Jakarta?

tok ya pengusaha emas

PENGUSAHA MAS