Oleh Dr Leo Sutrisno
Pada suatu siang, seorang pemuda berpakaian rapi memasuki ruang direktur sebuah perusahaan multi-nasional untuk melakukan wawancara. Ia sudah lolos dari seleksi tahap-tahap sebelumnya. Kali ini tahap akhir, tahap yang menentukan apakah ia bakal diterima atau ditolak.
Setelah berbasa-basi sejenak untuk membuka perbicaraan, Pak Diretur berkata: “Saya sudah mempelajari seluruh berkas amaranmu. Termasuk, riwayat perjalanan pendidikanmu. Sejak SD selalu menduduki urutan tertinggi di kelas. Bahkan sejak SMA hingga tingkat magister, selalu menerima bea siswa. Sungguh mengesankan”.
Setelah menyeruput sedikit air minum, Pak Direktur melanjutkan: “Ooo, IPK S-1 dan S-2, kedua-duanya, 4.00. Luar biasa”. Berhenti untuk menggeser letak kacamatanya. Lalu, lanjutnya: “Apa pekerjaan ayahmu?”
“Ayah telah meninggal ketika saya berusia dua tahun, Pak” Setelah sedikit menelan ludah serta menarik napas panjang, “Saya diasuh. Ia tukang cuci panggilan dari rumah ke rumah. Dari upah itu digunakan untuk membiayai hidup kami dan menyekolahkan saya, Pak”
Sambil mendengarkan Pak Direktur memperhatikan pakaian si pelamar posisi menejerial ini. ‘Sederhana, tetapi ditata rapi’, gumannya.
“Coba saya lihat telapak tanganmu, anak muda!”. Sejenak ia perhatkan telapak tangan anak muda yang duduk tegang di depannya.
“Baik. Pernahkah Anda membantu Emak, sesekali, mencuci pakaian pelanggan?” Lanjutnya.
