Oleh : Khatijah
Pengalaman adalah guru baik dari yang terbaik, mendapatkannya melalui perjalanan dan proses. Itulah yang ingin aku tulis di sini.
Untuk kesekian-kalinya naik kendaraan roda 4 selama belasan jam bukan masalah, sebab jika tidak begitu tak ada jejak. Badan terolang oleng di dalam kendaraan yang sempit nilainya sepala dengan pemandangan kiri kanan jalan dan tugas besar yang diamanahkan.
Begitulah perjalanan kami ke Badau, Kapuas Hulu, Jantung Kalimantan, heart Borneo, siapa tidak mengenal temet (kerupuk basah), dan ikan arwana. Aku yakin yang pernah mengunjungi dan menginjakkan kaki di kawasan dekat hutan belantara ini pasti ingin kembali.
Kali ini aku kembali ke Kapuas Hulu. Aku bukan untuk melaksanakan kegiatan Kampung Riset melainkan melaksanakan salah satu tugas akhir perkuliahan kuliah kerja nyata (KKN) yang dilakukan di Badau selama 40 hari.
Aku dan kawan-kawan naik taksi. Pak Adi, asli Sulawesi, kini tinggal di Pontianak, menjadi sopir kami untuk ke jantung Kalimantan. Tepat pukul 20 dari Institute Agama Islam Negeri Pontianak kami berangkat.
Perkiraan sampai di Badau sekitar pukul 11, agar sorenya bisa berkunjung ke rumah panjang, namun itu tak terlaksana, karena perjalanan yang kami tempuh lumayan berat. Sebabnya kami tidak melewati Putusibau melainkan jalan sawit Simpang Silat. Jalan kuda yang mengocok perut.
