“Ila ukhtina Arum, bintidhori ukhtiha! Marrotan ukhro, ila ukhtina Arum, bintidhori ukhtiha!” Begitu kira-kira suara yang menggema.
Di pesantrenlah cikal bakal tumbuhnya kecintaan pada dunia tulis menulis pada diri saya. Dulu belum ada handphone. Untuk komunikasi dengan orang tua di kampung, harus menulis surat.
Setelah surat ditulis, jalan kaki dari Gg. Pak Benceng ke kantor pos lama belakang SPBU Bundaran Kota Baru.
Sekarangsudah tidak ada, berganti jadi rumah makan. Tak jarang pula harus naik oplet ke kantor pos besar, depan Masjid Jihad.
Selain itu, saat dilanda rindu kampung, diary jadi teman. Dear diary. Kadang saya senyum-senyum sendiri mengingat masa itu. Masa-masa labil, galau, alay. Ah, macam-macamlah.
Tapi, alhamdulillah saya pernah mencicipi dinamika di pondok pesantren. Jadi santri. Kemandirian, kedisiplinan, keterampilan, kepercayaan diri ditempa di sana. Ilmu agama, sudah barang pasti. Bekal dunia akhirat. Semoga selalu bermanfaat. Amin. (*)
