in

Dua Sultan dari Pontianak

duo-sultan

Dua Sultan Pontianak, Syarif Muhammad Alkadrie dan Syarif Hamid II Alkadrie. Sultan Muhammad gugur melawan penjajah Dai Nippon Jepang, 1944. Sultan Hamid meniti karir militer dari Letda alumni Akmil Breda angkatan 1938. Pernah ditawan Jepang. Pernah menjadi Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Pernah menjadi Ketua Badan Federasi Negara negara Federal. Pernah mewakili Negara negara Federal di Konferensi Meja Bundar dan sukses di kala itu usianya baru 36 tahun. Ia berkorban harta, tahta dan wanita yang disuntingnya dari Malang, anak Kapten Van Delden dan ibu Bugis keturunan Kerajaan Sulawesi Selatan. Ia pernah jadi Menteri Negara Republik Indonesia Serikat dan mewariskan lambang negara elang rajawali Garuda Pancasila. Ia dituduh makar bersama Westerling atas pemberontak APRA di Bandung dan Jakarta, 1950. Namun putusan primair MA membebaskannya dari tuduhan makar dan bersekongkol dengan Westerling. Alasannya tidak cukup bukti….lalu apa sebab Sultan Hamid divonis 10 tahun penjara potong masa tahanan? Karena Sultan Hamid diadili secara politik. Bukan lagi peradilan pidana. Inilah yang menurut pakar pidana Prof Dr Andi Hamzah (masih hidup sampai sekarang) kalaulah dia yang menjadi hakim perkara Sultan Hamid semestinya saat itu keputusan yang adil adalah BEBAS MURNI. Pendapat Prof Dr Andi Hamzah ini fair. Dia pernah menjabat Jaksa Agung RI. Pendapatnya resmi. Disampaikan dalam seminar nasional Fraksi Nasdem di Gedung DPR RI, 2016. Mohon jadi pertimbangan Presiden RI Ir H Joko Widodo untuk mengenang jasa Sultan Hamid II Alkadrie sebagai Pahlawan Nasional. *

Baca Juga:  Ibadah Sosial Melalui Zakat

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

hermayani putera

Hobi jadi Pekerjaan, Pekerjaan jadi Hobi

WhatsApp Image 2020 07 12 at 16.01.39

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi