Taxi air mendekati dusun tersebut tampak biasa-biasa saja sebagaimana dusun lainnya di Kecamatan Batu Ampar. Hanya saja dusun Teluk Air semakin “orisinil” terlihat ketika dusun yang berada di bawah kokohnya bukit Teluk Air –belum ada nama khusus bukit dimaksud). Bukit dipenuhi pohon besar lebat nan-hijau seolah menutupi peradaban kehidupan di dalamnya. Terlihat berdiri tegak satu, dua, sisa bangunan tua pabrik atau somel seolah ingin bersaksi dan mengatakan kepada siapa saja yang datang “Dahulu, Aku pernah berjaya di sini…!” Perusahaan yang pernah berkiprah seperti ; PT. Satya Daya Raya (SDR), PT. Hutan Raya, PT. Aria Jaya dan PT. Lapan-Lapan (bahkan menurut referensi ada perusahan yang telah berdiri sejak 1881)
Perusahaan inilah dianggap sebagai 4 (empat) pabrik terbesar pada masanya saat itu.
Semua perusahaan ini bergerak dalam bidang pengolahan kayu, mulai dari penyiangan kulit kayu hingga dipotong sesuai ukuran standar diinginkan selanjutnya untuk diekspor atau dijual pasaran lokal. Bahan baku kayu yang diolah oleh pabrik/somel ini bukanlah hasil hutan dari Teluk Air, namun diperoleh dari tanah hulu, disatukan diikat dalam bentuk rakit dibawa melalui jalur Sungai Kapuas melintasi Batu Ampar menuju laut di Padang Tikar. Pabrik/somel di Teluk Air hanya sebagai tempat proses pengolahan.
