in

Ulasan Buku : Lelaki Harimau

Penulis: Eka Kurniawan
Tebal halaman: 191
Tahun: 2004

Sore pukul enam belas lewat sepuluh dengan setengah mabuk Margio meninggalkan warung Agus Sofyan. Dua puluh menit kemudian ia kembali dengan mulut dan badan berlumuran darah. Warga kota percaya bahwa Margio menggigit putus urat leher Anwar Sadat tepat pukul enam belas lewat dua puluh. “kawin lah dengan ibuku ia akan bahagia” “tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak” “lagipula aku tidak mencintai ibumu”

Tak ada konsep waktu linear dalam setiap novel Eka Kurniawan yang aku baca. Meski selalu ada pengalaman kebatinan yang aneh setiap aku selesai membaca tulisannya tapi patut kuakui bahwa dari sana Eka berhasil memberi nyawa pada setiap visual kata.

Lelaki Harimau menggambarkan keadaan psikologis yang natural. Memberi kita nol peser ruang untuk menjustifikasi.

Written by Rike Rahayu

Rike Rahayu is a volunteer, a student, and a writer. A Volunteer of AFS Indonesia, Bina Antarbudaya chapter Pontianak, and Kampoeng English Poernama. She was studying at Trilogi University in Jakarta and currently at Pontianak State Polytechnic.

She was writing 3 books, and shortlisted for Journalism Fellowship to Malaysia and Singapore in 2018. She has contributed to KEP's Literature Project. She lives in Pontianak.

Dengan Tactical Floor Game, Kapolda Kalbar Samakan Persepsi Pengamanan Kamtibmas

Tangkal Corona, Selama Seminggu Warga Bakti Suci Hidupkan Tradisi Burdah