Tentu menulis yang kumaksud di sini adalah selain skripsi atau makalah sebagai syarat kelulusan studi mata pelajaran tertentu.
Belakangan ini aku sering merenung. Melihat sudah banyak sekali penulis dan buku-buku, baik kumpulan cerpen, novel, puisi, opini, yang bertebaran di mana-mana. Penunjang untuk menjadi seorang penulis pun sudah banyak. Banyak klub, forum, sekolah yang bergerak di bidang kepenulisan dilengkapi dengan penerbit indie yang memudahkan kita untuk meraih gelar ‘seorang penulis’.
Kalau penulis sudah banyak, kenapa aku mesti dan masih (harus) menulis?
Aku akan mengawali dengan: Pertama, aku menulis untuk mengutarakan pendapat. Kedua, untuk mendapatkan uang.
Selain itu, mungkin tentu ada kepentingan lain, seperti: memperbaiki CV, agar terlihat keren dan terkenal dan alasan lain yang tidak bisa dipungkiri sebagai manusia.
Aku ingin bahas yang pertama karena itu merupakan alasan utamaku. Kalau pendapat kedua mungkin agak berat. Berat kalau menyangkut honor penulis.
Aku sadar secara penuh kalau aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Kalau sedang ngobrol dengan teman-teman, sekedar menggosipkan selebritis atau mendiskusikan masalah yang sedang ramai diperbincangkan di media, ketika berpendapat dan memberi pandangan, aku merasa cenderung berputar-putar. Aku pun sering berkata, “Eh, bentar. Aku lupa nak bilang ape.” Atau “bentar lok, kamek dah bilang itu kan tadi?”
