Secara jujur pula, aku bukan orang yang pro LGBT. Bagiku, LGBT understandable! Bukan berarti aku endorser!
Dari keprihatinan itulah ide novel pertamaku muncul. Maka, untuk mengutarakan pendapatku tentang LGBT, aku mulai dengan menulis status singkat di facebook atau membuat PM di BBM. Tetapi semua itu belum cukup. Novel adalah wadah yang pas untuk menulis pendapat lengkap tentang LGBT. Karena seseorang tentu punya history yang layak untuk didengar kenapa seseorang memiliki penyimpangan seksual. Meskipun di novel ini masih membeberkan klimaks, belum ke tahap pemberian solusi.
Aku berharap 2017 sekuel PARA atau PARA seri #2 akan hadir memberi solusi untuk LGBT yang isunya sedang dikesampingkan karena isu hot pemilihan kepala daerah ibukota Negara tercinta atau karena orang-orang sebenarnya sudah bosan dengan topik ini.
Tentunya solusi yang ditawarkan buka secara ilmiah. Tetapi hanya sebagai seorang perempuan yang peduli terhadap ‘hak berbahagia’, seseorang yang usianya masih dua puluhan sehingga pendapatnya mungkin tidak layak didengar.
Tentu saja buku penentuan kelulusan atau skripsi juga sedang menunggu untuk diselesaikan. Nanti kita diusir mamak kalau tak jadi sarjana. Hehehe. Salam.
Pontianak, 18-10-2016.
