Edukasi

Untuk Apa Aku Menulis?

Untuk Apa Aku Menulis?

Padahal aku bukan orang yang anti sosial sehingga menjadi manusia yang saking introvertnya, bicara pun jadi tak lancar. Bukan pula manusia yang kekurangan literasi sehingga kehabisan kosa kata. Bukan juga penderita amnesia dadakan. Aku lebih menikmati berbicara dengan keyboard dan monitor laptop. Karena kalau selesai menulis, kita bisa merevisi, mengedit tulisan kita sepuas mungkin sampai kita PD memberikannya ke publik.

Bayangkan kalau berbicara kita mengedit dulu kalimat yang kita ingin katakan. Pasti lawan bicara mendadak tua sebab menunggu terlalu lama kemudian mencap kita sebagai orang yang tak asik diajak ngobrol.

Teringatlah aku ide lahirnya novel pertamaku yaitu PARA-Kepulangan Bintang. Ide novel tersebut secara jujur muncul ketika sedang maraknya isu lesbian, gay, Bisex, Transgender atau dengan nama beken LGBT. Sehingga di bahas di kantin, di sosial media, di rumah ibadat, bahkan mungkin di dapur saat seorang ibu sedang memasak bersama puterinya.

Menyakitkan hatiku, di depan wajahku sendiri, beberapa teman tertawa-tawa membahas isu LGBT dan seorang dari mereka setelah habis mengejek mengatakan, “emangnya kamu mau terima darah atau donor ginjal dari LGBT? Aku sih, najis!!”