Sistem Ekonomi Islam memang mengakui bahwa setiap orang memiliki keterampilan, kreativitas, usaha, dan risiko masing-masing. Ada orang yang sebab miskinnya karena tidak memenuhi standar itu. Karenanya penerima zakat atau mustahik memang benar salah satunya fakir miskin. Sehingga menurut pandangan saya, banyak orang keliru menilai zakat selalu identik dengan kemiskinan. Bukankah ada 8 asnab perima zakat yang lain? tidak semuanya miskin toh. Beberapa zakat memang diberikan untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam beberapa hari saja, selebihnya tidak. Tidak sedikit juga zakat diarahkan kepada produktivitas. Nah, pada segmen produktivitas ini yang harus digenjotkan. Sehingga stigma zakat sebagai lambang kemiskinan tergerus dari sudut pandang kebanyakan orang. Jika sudah begitu, zakat benar-benar bakal disoroti sebagai instrumen utama mengatasi kesenjangan ekonomi.
Kesadaran zakat produktif harus dipahami oleh muzakki atau pemberi zakat. Sebab muzakki adalah orang yang mengeluarkan hartanya kepada mustahik. Mustahik hanya menerima apa yang ada, kebijakan berada di tangan muzakki. Sumber zakat yang tepat dalam menyongsong produktivitas adalah zakat mal atau harta dan zakat profesi. Melalui zakat harta orang bisa mengeluarkan uang. Uang ini dijadikan sumber modal memberdayakan produktivitas mustahik.
