Karya sulamnya yang tak kalah menarik lainnya adalah duplikasi atas foto istana Kadariah Pontianak yang diambil sang fotografer dengan teknik fotografi refleksi. Sisa air hujan yang mengenang di halaman depan istana berhasil menghadirkan gambar indah yang artistik. Pengalaman menyulam dari sejak 42 tahun silam membuat Bu Yayuk tak menemukan kesulitan mengaplikasikan foto tersebut dalam karya sulamnya selama 4 bulan terakhir.
Di ujung perbincangan saya dan Bu Yayuk di stand penuh inspirasi miliknya ini, Saya memperkenalkan diri dan bertukar nomor handphone sambil mengatakan kepadanya bahwa saya dan kawan-kawan punya stand yang sama di arena pemeran, “Itu bu, stand literasi,” ujar saya sambil menunjuk stand literasi yang tak terlalu jauh jaraknya dari stand milik bu Yayuk Sulam.
Wah..wah…keren sekali ibu ini neh, pikir saya sambil meninggalkan stand bu Yayuk menuju stand kami, stand literasi-stand milik pengiat literasi di Pontianak.
Sesampai di stand literasi kami dan pemilik stand lainnya disibukkan dengan menerima kunjungan Plt Walikota Pontianak yang berkeliling selepas acara pembukaan pameran.
Tak lama selepas Bapak Plt Walikota Pontianak dan rombongan meninggalkan arena pameran beberapa teman berteriak memanggil saya, mengatakan bahwa ada seseorang datang hendak bertemu. Sesampai di muka stand literasi saya sedikit terkejut, ada Bu Yayuk Sulam di hadapan.
