Saya menghabiskan akhir pekan berbicara dan bertemu dengan banyak orang Sunda Wiwitan ini. Aku melihat dupa terbakar. Aku melihat pohon-pohon besar. Saya menyaksikan pemahaman mereka tentang diskriminasi dan toleransi agama mereka. Saya belajar bahwa lima dekade setelah larangan, orang-orang ini masih bertahan. Sangat menarik melihat agama kecil menghadapi negara bagian dan kekuasaan raksasa lainnya. (*Penulis adalah pembina Yayasan Pantau dan aktif mendidik narrative reporting kepada wartawan dan aktivis di seluruh Indonesia. Peneliti di Human Right Internasional. Menetap di Jakarta).
Baca Juga:Kemeriahan Cap Go Meh Di Tahun Ayam
