Diakhir perbincangan tersebut Niko meyakini bahwa: Aksi nyata para pihak adalah satu bentuk kepercayaan kepada masyarakat di sekitar hutan sebagai bapak angkat untuk menjaga pohon yang masih tegak berdiri agar oksigen dan sumber air bersih masih bisa kita nikmati bersama dengan memberi kompensasi untuk kesejahteraan mereka dengan didukung anggaran yang mumpuni baik APBD, APBN atau pun dana-dana Hibah dari Luar Negeri seperti program dari ADB (Asian Development Bank) dengan program fip-1 atau skema result based payment (RBP) dari program REDD.
Jangan sampai jargon hutan Kalimantan barat sebagai salah satu dari paru – paru dunia menjadi terinfeksi dan bukan menjadi HOB (Heart of Borneo) lagi.
Jangan menyesal ketika yang tersisa Hanya gurun pasir. Menyesal tidak pernah datang duluan dan selalu setelah kejadian. Makanya jangan sampai nasi menjadi bubur.
Niko pun mengepalkan tangannya:
“Salam lestari dari Rimba Sintang Timur Kalimantan Barat.”
“HUTAN LESTARI, MASYARAKAT SEJAHTERA DAN INDONESIA JAYA.”
