Tanggal 5 Juli, webinar para guru sejarah yg digagas Asosiasi Guru Sejarah memperjelasnya. Begitu gelap sejarah Indonesia antara tahun 45 hingga 50.
Tak sedikit guru yang merasa banyak hal yang baru diketahuinya. Tidak melulu karena rendahnya literasi bangsa kita, tapi memang selama ini buku ajar disesuaikan dengan selera pemilik kuasa. Nyaris tak ada pilihan asupan sejarah.
Di era digital ini, angle sejarah makin utuh. Tinggal klik, banyak referensi yang mampu digali. Sejarah tak lagi bisa dibingkai sesuai kemauan. Demikian wejangan berbalut intelektualitas anak proklamator, Meutia Hatta.
Kita terlanjur percaya, bahwa pahlawan itu adalah sosok putih, yang tak mungkin ada hitamnya. Kita mengimajinasikan sebuah utopia sejarah. Yang akhirnya tidak memanusiakan figur pahlawan. Pahlawan melulu dicitrakan sosok yang sempurna. Tak ada cela meski senila.
Pun Sultan Hamid 2. Meski sang Perancang Lambang Negara dan pemimpin diplomasi ulung di KMB, itu tak menghilangkan cap pengkhinat yg disemat penguasa melalui peradilan politik beberapa dasawarsa yang lalu.
Bagaimana akhir kisah sang perancang lambang negara?
