Kegiatan semacam untuk menghambat penyebaran virus influensa telah dilakukan di banyak negara. Pada tahun 2017, James A.G.Crispo, Lindsey Sikora, dan Daniel Krewski, membuat rangkuman sistematis dan meta-analisis 16 penelitian tentang pengaruh ‘proteksi diri’ untuk melawan pandemi infeksi influensa-2009 (H1N1). Ditemukan bahwa menjaga tangan yang heiginik (misal: membasuh dengan air mengalir dan bersabun) secara signifikan (23%) berhasil melawan penyebaran penyakit influensa-2009. Demikian juga penggunaan masker tutup muka (22%). Sayang, rangkuman ini tidak ditemukan data yang cukup dampak dari etika batuk atau bersin. Demikian juga dengan dampak dari jaga jarak antar manusia.
Syukurlah, Faruque Ahmed, Nicole Zviedrite, dan Amra Uzicanin, 2018, memetaanalisis 15 penelitian yang terbit antara 1 Jan 2000 dan Mei 2017 tentang pengaruh jaga jarak pada penurunan penyebaran influensa-2009 (H1N1). Ditemukan bahwa jaga jarak dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini sebesar 23%. Dampaknya akan lebih besar jika digabungkan dengan usaha yang lain baik secara medis (mengkonsumsi vitamin) maupun non-medis (misal: mindfulness).
Jadi, jaga jarak antar manusia dapat menurunkan kemungkinan penyebaran cirus influensa-2009 (H1N1) yang juga pandemik. Sekarang ini, banyak negara, termasuk di Indonesia, mengadopsi cara ini untuk menghambat penyebaran virus Covid-19 yang juga pandemik bahkan di seluruh dunia.
