Prof. Dr. Chairil Effendy menceritakan perjalanannya di pedalaman Kalimantan Barat ini. Kala itu Pak Chairil menjadi anak angkat oleh orang yang bersuku Dayak selama kurang lebih 3 tahun. Pak Chairil bermaksud untuk bisa mempelajari bahasa Dayak terutama bahasa ibu.
Tetapi tidak tercapai keinginan tersebut karena orang tua angkatnya yang juga menjadi muallaf sudah banyak lupa akan bahasa ibunya.
Menurut beliau faktor yang menghilangkan bahasa ibu pada diri seseorang karena disengaja. Yaitu sengaja dilupakan.
Oleh sebab itu agar tidak dilupakan bahasa ibu itu harus ada yang melestarikannya. Orang yang mampu menguasai kosa kata bahasa ibu maka disebut “munsyi”.
Untuk melestarikan bahasa ibu ini banyak pihak yang harus dilibatkan dan khususnya para anak-anak muda. Sebab tanpa kebersamaan sulit untuk melestarikan bahasa ibu kita. Karena bahasa ibu ini adalah bahasa kita semua.
“Jangan malu untuk berbahasa ibu”. Begitulah pesan ungkapan yang ditampilkan oleh narasumber Bang Dedi Aspar. (*)
