Opini

Buah Kebaikan

Buah Kebaikan

Diceritakan, pada suatu sore, seorang pensiunan guru secara tidak sengaja berjumpa dengan mantan murid puluhan tahun lalu. Si mantan murid dengan rangkulan hangat, mengingatkan bahwa ia pernah menjadi diajarnya.

“Bapak tidak ingat saya?. Sungguh bapak tidak ingat?!” ucapnya beberapa kali.

“Bapak ingat kejadian ketika Bapak sedang mengajar di kelas kami, kelas IB, ada kawan saya yang menangis karena uang hadiah ulang tahunnya hilang?” lanjutnya.

“O, ya. Saya ingat!” Jawab si pensiunan.

“Nah, apa yang Bapak lakukan? Bapak menyuruh semua siswa ke luar kelas kecuali yang kehilangan uang. Setelah pintu kelas ditutup, Bapak menyuruh kami berdiri berbaris di samping kelas dengan mata tertutup. Kemudian, Bapak menggeledah saku kami satu per satu. Uang itu Bapak temukan di saku saya”. Katanya sambil menghirup napas lagi.

“Tetapi!”. Lanjutnya, “Bapak tidak berhenti di situ. Bapak terus menggeledah saku semua siswa. Saya kagum dengan tindakan Bapak saat itu. Bapak tidak mempermalukan saya di depan siapapun. Bapak sungguh baik”. Katanya, sambil menghembuskan napas tipis.

“Kejadian itu yang endorong saya berubah. Dan, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi guru. Begitu lulus SMA, walau dengan nilai tertinggi, saya memilih masuk ke fakultas pendidikan. Jadilah, saya sekarang ini, juga seorang guru”