Mungkin sudah hampir empat tahun saya tidak menulis. Bukan sekadar jarang, tapi benar-benar berhenti. Tidak ada artikel, tidak ada opini. Pena seperti saya letakkan begitu saja, lalu saya biarkan berdebu. Padahal dulu, menulis adalah bagian dari hidup saya.
Jika diingat kembali, ada beberapa motif yang mendorong saya menulis saat itu.
Pertama, saya pernah membaca data UNESCO tentang rendahnya minat baca di Indonesia. Katanya, peringkatnya berada di angka yang memprihatinkan. Entah tepat atau tidak angkanya, yang jelas waktu itu saya berpikir sederhana “Saya tidak ingin menjadi bagian dari statistik itu.”
Kedua, di usia dua puluhan, menjadi penulis terasa keren. Apalagi jika tulisan dimuat di koran. Ada honor meski tidak seberapa. Sekitar lima puluh ribu rupiah per tulisan. Hari ini saya sadar, diantara niat yang baik, terselip juga niat yang keliru.
Ketiga, menulis membuka banyak jendela. Ia memaksa saya untuk membaca, dan membaca memperkaya perbendaharaan kata, memperluas cara pandang, serta melatih cara berpikir.
Keempat, ada keinginan sederhana meninggalkan jejak,” Sesuatu yang kelak bisa dikenang, meski penulisnya sudah tidak ada.
Namun waktu berjalan. Saya berhenti menulis. Tanpa saya sadari, ada yang ikut berubah. Pikiran yang dulu terasa terasah, kini seperti tumpul. Yang justru tajam hanyalah cangkul di tangan.
