Opini

Cangkul yang Lebih Tajam dari Pikiran

Cangkul yang Lebih Tajam dari Pikiran

Saya tidak sedang merendahkan pekerjaan bertani. Justru dari sanalah saya belajar banyak hal tentang hidup. Tapi saya mulai merasakan, ada bagian dari diri saya yang tertinggal.

Bagian yang dulu berpikir lewat kata. Belakangan ini, kesadaran itu seperti diketuk kembali. Saya mendengar podcast dari Bilal melalui kanal “Suara Berkelas,” sari sana, pikiran saya seperti dibuka kembali.

Bahwa menulis dan membaca bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia adalah bagian penting dari perjalanan menjadi manusia yang terus tumbuh. Apalagi sebagai seorang muslim, wahyu pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Sebuah isyarat bahwa peradaban dimulai dari ilmu, dan ilmu tidak lahir dari pikiran yang dibiarkan diam.

Memang, berkembang dan mendewasa tidak hanya lewat menulis dan membaca. Mendengar hal-hal baik, belajar dari pengalaman, dan menyimak kehidupan sekitar juga bagian darinya. Semuanya saling berhubungan.

Namun tetap saja, ada beberapa hal yang membuat saya merasa perlu kembali.
Pertama, menulis dan membaca membuka pikiran. Ia membantu kita melihat lebih luas dari sekadar apa yang tampak di depan mata.

Kedua, ia menumbuhkan kedewasaan.
Bukan sekadar bertambah usia, tapi bertambah cara pandang.

Ketiga, ia memperkaya khazanah.
Membuat kita tidak kering dalam berpikir dan tidak sempit dalam menilai.