Memang, kita tak dapat menafikan sisi negatif seseorang sebagai manusia. Tak ada yang sempurna. Namun, kita harus mengubur dalam-dalam segala macam bentuk keburukan. Mengangkat semua kebaikan! Bukankah kita diajarkan untuk bicara yang baik-baik? Itu semua termaktub di dalam nilai-nilai moral Pancasila. Kita harus berdamai dengan sejarah masa lalu. Kalau tak mau retak perbedaan, kian renggang. Bukankah persatuan itu, sebagai komitmen bersama, harus kita kedepankan? Maka konsekuensinya bahwa kita tak boleh punya dendam. Buang jauh semua tindak tanduk dan watak buruk.
Itu hanya akan merugikan generasi kita, bahkan putra bangsa generasi yang menggantikan kita. Saya hanya manusia dari kampung, gerbang batas kota di Pontianak Timur sana. Yang ingin agar keadilan itu nyata dapat kita rasakan bersama. Bagaimana kita patut meninggalkan legacy (warisan) yang baik untuk anak cucu kita. Maka, kami terus teriak agar mereka mendengarkan. Sebelum sikap adil itu dibentangkan di hadapan kita, secara bersama-sama pula.
Pemerintah merupakan induk kebijakan, yang melakukan formulasi dan arah konstruksi hukum dan politik masa depan. Maka, salah besar kalau putusan-putusan kebijakan yang dibuatnya, akan mencatat kebaikan hanya dalam sudut pandangnya saja. Kebaikan milik semua orang, tapi sedikit orang yang barangkali berdiri, bersama terang benderang kebenaran.
