Kenyataan ini, bagi saya melengkapi perjalanan iman yang diawali dengan mendengar ‘suara’, dari para katekis dan kotbah-kotbah pastor. Dan, dilanjutkan dengan membaca sendiri dari berbagai sumber tentang kehidupan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Serta, dipuncaki dengan melakukan refleksi kontemplatif. Muncullah deskripsi Yesus, Tuhan yang hidup nyata sebagai manusia yang melakukan penyelamatan dunia seperti yang telah difirmankan sebelumnya.
Itu berarti, perkembangan iman saya dibangun dari mendengarkan (Firman Tuhan) yang dilengkapi dengan melihat (Tuhan Yesus). Iman yang merupakan gabungan dari suara (yang didengarkan) dan terang cahaya (yang dilihat).
Perjalanan iman seperti ini, dari suara ke terang cahaya, dari didengarkan ke dilihat, mirip dengan perkembangan teknologi informasi. Pada tiga dasa warsa yang lalu, dengan perangkat telpon ‘jadul’, kita mendengar berita. Kini, berkat perkembangan teknologi telekomunikasi, dengan gawai kita mendengar dan melihat kejadian yang diberitakan. Hasilnya, peristiwanya terasa semakin nyata. Dengan seperti itu, informasi sungguh fakta nyata. Maka, tidak ada perdebatan lagi.
Kisah penyelamatan dunia dalam keutuhannya juga mirip seperti itu. Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Tuhan telah berusaha menyelamatkan melalui Firman-Firman-Nya. Sayang, hanya satu anak manusia, bapa Abraham yang mendengarkan Firman itu dan melaksanakannya.
