Salah satu cara membudayakan berpikir divergen adalah menempatkan setiap orang setara dan karena itu bisa duduk bersama dalam satu meja untuk saling berargumentasi. Pada ‘meja’ itu, masing-masing menyajikan pemikiran/pandangannya selengkap mungkin dengan logika yang sahih. Selain itu, mereka juga harus menunjukkan manfaat dari pemikiran/pandangannya seluas mungkin. Hanya pemikiran/pandangan yang paling lengkap, paling masuk akal dan paling banyak manfaatnya dipilih sebagai ‘kebenaran bersama’.
Pembudayaan berpikir konvergen tidak perlu menunggu hingga seseorang dewasa. Kegiatan ini mesti dimulai sedini mungkin. Bisa dimulai dari rumah ketika masih usia balita.
Sebagai ilustrasi, ketika anak saya masih balita sering minta diajak jalan-jalan naik motor. Ia saya bolehkan duduk di belakang atau di depan saya. Tetapi, dengan syarat. Jika duduk di depan harus memakai helm (karena sesuai dengan anturan berlalu lintas) dan memakai jaket (untuk melindungi badannya dari terpaan angin langsung). Sebaliknya, jika duduk di belakang saya, ia boleh tidak berjaket karena tidak terlalu kuat menerima terpaan angin dari depan). Mana yang benar? Keduanya benar. Dengan cara ini anak saya bisa menerima. Jika ingin duduk di depan, ia mencari sendiri jaket dan helmnya, tanpa menunggu diperintah. Dan sebaliknya, jika ingin duduk di belakang saya, dengan santai ia hanya mengenakan helmnya.
