Home > Opini > Deradikalisasi: Membudayakan Berpikir Divergen

Deradikalisasi: Membudayakan Berpikir Divergen

Oleh: Leo Sutrisno

Salah satu program Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Maju adalah deradikalisasi serta menumbuhkan kembali toleransi. Program ini, sejak pelantikan para anggota kabinet sering diucapkan kembali dalam berbagai kesempatan. Ungkapan ini semakin besar gaungnya karena para menteri juga mengungkapkan kembali kata tersebut di dalam pertemuan-pertemuan resmi di kantor masing-masing atau ketika berhadapan dengan awak media.

Sejauh yang dapat dicatat, para radikalis menggunakan kerangka berpikir konvergen. Berpikir konvergen barangkat dari satu atau beberapa ‘dalil’ yang diyakini sebagai yang benar. Berdasarkan dalil itu argumentasi dikembangkan untuk menilai pemikiran/pandangan yang lain. Apabila pemikiran/pandangan yang lain ini konsisten dengan dalil yang dipegang sebagai yang benar maka pemikiran/pandangan itu diterima. Sebaliknya, jika tidak konsisten dengan pemikiran/pandangannya, pemikiran/pandangan tersebut ditolak.

Secara filosofis, cara berpikir konvergen termasuk mashab diterminisme. Diteminisme menganggap hanya ada satu kebenaran. Semua hal yang berbeda dengan yang diakui sebagai yang benar dianggap salah.

Apa bila kerangka berpikir konvergen ini masih dalam tataran pikiran maka tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi, jika telah menjadi sikap dan mewarnai tindakannya, tentu akan menimbulkan masalah. Karena, mereka yang dianggap salah akan dieliminasi. Timbulkah konflik. Ujungnya, terjadi tidak kekerasan.

Mereka yang sekarang sedang menjalani hukuman atas putusan pengadilan sebagai kelompok radikal adalah mereka yang berpikir konvergen dan telah bertindak memaksakan pemikirannya agar diterima oleh orang lain/negara dengan kekerasan. Deradikalisasi mesti diarahkan kepada mereka yang berpikir konvergen dan ingin memaksakan kehendaknya terhadap negara atau kepada orang/kelompok lain.

Apa yang dapat dilakukan? Karena deradikalisasi menjadi program pemerintahan Presiden Joko Widodo, maka para menteri yang diserahi mewujudkan program itu mesti mengubah semua anggota masyarakat cara berpikir yang hanya mengakui kebenaran tunggal (konvergen) menjadi cara berpikir yang mengakui kebenaran jamak (divergen).

Cara berpikir yang mengakui kebenaran jamak (divergen) beranggapan bahwa selain kebenaran yang dipegangnya ada banyak kebenaran lain yang dipegang oleh orang lain. Cara berpikir semacam ini disebut cara berpikir divergen. Cara berpikir divergen dikembangkan oleh pengikut mashab konstruktivisme.

Dalam mashab konstruktivisme, diterima anggapan bahwa setiap orang memiliki pemikiran/pandangan sendiri sesuai dengan pengalamannya ketika berinteraksi dengan yang lain. Pemikiran/pendangan yang secara bersama dianggap betul adalah pemikiran/pandangan yang: paling lengkap, paling masuk akal dan/atau paling banyak manfaatnya. Pemikiran/pandangan yang memenuhi sifat-sifat ini yang akan diterima oleh banyak orang.

Salah satu cara membudayakan berpikir divergen adalah menempatkan setiap orang setara dan karena itu bisa duduk bersama dalam satu meja untuk saling berargumentasi. Pada ‘meja’ itu, masing-masing menyajikan pemikiran/pandangannya selengkap mungkin dengan logika yang sahih. Selain itu, mereka juga harus menunjukkan manfaat dari pemikiran/pandangannya seluas mungkin. Hanya pemikiran/pandangan yang paling lengkap, paling masuk akal dan paling banyak manfaatnya dipilih sebagai ‘kebenaran bersama’.

Pembudayaan berpikir konvergen tidak perlu menunggu hingga seseorang dewasa. Kegiatan ini mesti dimulai sedini mungkin. Bisa dimulai dari rumah ketika masih usia balita.

Sebagai ilustrasi, ketika anak saya masih balita sering minta diajak jalan-jalan naik motor. Ia saya bolehkan duduk di belakang atau di depan saya. Tetapi, dengan syarat. Jika duduk di depan harus memakai helm (karena sesuai dengan anturan berlalu lintas) dan memakai jaket (untuk melindungi badannya dari terpaan angin langsung). Sebaliknya, jika duduk di belakang saya, ia boleh tidak berjaket karena tidak terlalu kuat menerima terpaan angin dari depan). Mana yang benar? Keduanya benar. Dengan cara ini anak saya bisa menerima. Jika ingin duduk di depan, ia mencari sendiri jaket dan helmnya, tanpa menunggu diperintah. Dan sebaliknya, jika ingin duduk di belakang saya, dengan santai ia hanya mengenakan helmnya.

Ketika orang sudah menggunakan cara berpikir divergen maka ia tidak akan memaksakan pemikiran/pandangannya pada orang lain. Mereka menjadi toleran terhadap orang lain. Mereka menjadi tidak radikal dalam bersikap dan bertindak. Sehingga, tercapailah hidup bersama liyan dengan damai. Karena, tidak ada konflik lagi. Tidak terjadi kekerasan.

Semoga!

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju.id

Check Also

Rumah Literasi FUAD: Mengejar Waktu Menghimpun Karya

Oleh: Yusriadi Sejak dua pekan ini kesibukan kami di Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak bertambah. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *