Opini

Si Malaekat, BI’ TAAM

Si Malaekat, BI’ TAAM
Dr Leo Sutrisno

Oleh: Dr Leo Sutrisno

Deburan ombak jejak badai Haiyan sudah menghilang. Riak-riak permukaan air kembali bermain dengan kilatan-kilatan gelombang cahaya Bulan. Di ujung sana, bayangan batang pohon kelapa terlibat dalam pilinan interferensi kedua riak gelombang itu. Ketenangan samudera telah menggantikan kemarahan badai musim pancaroba. Tiba-tiba terkembang lagi layar plasma langit yang telah dua minggu menghilang di balik cakrawala.

Saya baru saja selesai memeriksa bayi mungil, Ridho, cucu Bi’ Taam. Bi’ Taam, orang di sini lebih sering memanggilnya Bu Amat, orang Madura kelahiran pulau seberang. Ia bermukim di kepulauan sudah lebih dari tiga puluh tahun. Beberapa hari sebelum konflik antar etnis, seorang tetangga yang baik hati ‘membawanya’ ke kepulauan ini. Belakangan, ia mendapat kabar bahwa rumah beserta seluruh isinya habis dilalap api.

Hari ini adalah kunjungan rutin bulanan yang ke enam. Ridho telah menjadi seorang bayi yang terlihat gagah ganteng. Mata birunya menyorotkan rasa percaya diri yang kuat seperti mata Miabella, ibunya. Sedangkan bibirnya menyiratkan bibir Solo yang tidak mau diungguli orang lain. Kulitnya? Jangan disangka hitam terbakar seperti milik Bi’ Taam yang khas Bangkalan pantai. Kulit berwarna kuning cerah khas orang Mediterania.