Opini

Si Malaekat, BI’ TAAM

Si Malaekat, BI’ TAAM
Dr Leo Sutrisno

“Rasanya, anak ini kelak akan tumbuh menjadi lelaki tampan metropolis, idaman gadis-gadis Milenial” Ucap saya perlahan sambil memeriksa Ridho.

“Tak tahulah, Aku” Ucap Bi’ Taam. Ternyata, ia mendengar ucapan tadi. “Sangkaku ibunya akan bunuh diri, saat itu” sambung Bi’ Taam tanpa diminta. Sedangkan Miabella sedang sibuk di belakang mencuci pakaian Ridho.

“Saat aku lewat, Mia berdiri di bibir tebing pantai Ujung sana. Aku teriaki. Moy, moy, jangan dibunuh anak yang kau kandung itu. Biar aku pelihara untuk teman masa tuaku”. Berhenti sejenak untuk menggulung sirihnya.

“Ia, berlari turun dari tebing dan memeluk aku sambil menangis. Aku bawa ke rumah hingga sekarang ini” Bi’ Taam pergi ke belakang. Melanjutkan memasak untuk makan siang.

Aroma ikan sarden goreng bercampur sayur pucuk daun ubi menyebar ke ruang depan.membuat is perut berkelonjotan ingin segera diisi.

sambil menidurkan Ridho dalam ayunan selendang a la Bi’ Taam. Mia bertutur seolah-olah kepada dirnya sendiri “Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih ke Mak Taam” Ia memulai curhatannya.

“Ia sungguh malaekat. Dalam kesederhaan seperti ini masih mau menjadi penyelamatku”. Berhenti sejenak mengambil napas panjang. Setetes air mata jatuh dipangkuan.