Opini

“Gong Xi – Gong Xi”

“Gong Xi – Gong Xi”

“Aku gituk gak Nur,” kata Bang Yusuf pengasuh Panti Asuhan Aisyiah Muhammadiyah yang terletak di Jalan Kesehatan. “Sejak kecik di Telok Pakedai, kame’ orang Buges same Pak Alau-Maknyah sekeluarge besak Tionghoa tadak ade masalah.” Relasi etnis dan agama terjalin mesra, tanpa sekat sosial. Tentu di luar ritual yang sejak dahulu juga nafsi-nafsi–masing-masing–tetapi tiada ada masalah yang krusial seperti sekarang kerap menjadi masalah dan kerisauan. Termasuk soal memberikan ucapan selamat hari raya Imlek. Termasuk ke sebelah sana, mengucapkan selamat hari raya Natal dan tahun baru Masehi.


Nikmat hidup terasa jika kita melebur dalam cita-rasa persaudaraan. Ibarat ikan di laut, bisa bergaul dengan berbagai jenis ekosistemnya, tetapi dagingnya tetap tawar–tidak lantas larut dalam konstituen air asin. Justru si ikan akan moncer rasanya jika bertaut dengan asam di gunung, dan rempah-rempah dari daratan, sehingga berjodoh di periuk, belanga atau santap bersama.

Kehidupan mengajarkan kearifan, tanpa kehilangan identitas masing-masing, termasuk iman dan kepercayaan masing-masing.

Pak Alau dan Maknyah sekeluarga besar tetap beranak pinak dengan damai. Kami juga demikian. Spiritualitas justru mendukung terwujudnya toleransi tanpa mengadaikan akidah.