in

“Gong Xi – Gong Xi”

IMG 20210212 WA0008

Oleh: Nur Iskandar

Lagu Gong Xi akrab di telinga saya sejak kecil. Di depan rumah ada tetangga Tionghoa yang suka memutar lagu-lagu Mandarin dengan pengeras suara jenis salon seukuran depa tangan saya sewaktu kecil. Apiau dan Amiau adalah kawan sepantaran main. Rumahnya juga adalah warung serba ada yang melayani warga untuk berjual-beli.

Setiap lebaran Idul Fitri “Maknyah” dan “Pak Alau” yakni si ibu dan si bapak tetangga selalu berkirim roti kaleng ke rumah. Begitupula di tahun baru Imlek, kami biasa berkirim kue lapis ke rumah tetangga. Akrab dan karib seperti keluarga besar sesama paman dan bibi. “Nanak ada beda-beda”.

Begitulah contoh teladan telah ditunjukkan orang tua kami. Bahwa kata toleransi itu tidak pernah kami dengar dari mulut mereka, tapi nyata. Hadir dalam kehidupan sehari-hari.


“Aku gituk gak Nur,” kata Bang Yusuf pengasuh Panti Asuhan Aisyiah Muhammadiyah yang terletak di Jalan Kesehatan. “Sejak kecik di Telok Pakedai, kame’ orang Buges same Pak Alau-Maknyah sekeluarge besak Tionghoa tadak ade masalah.” Relasi etnis dan agama terjalin mesra, tanpa sekat sosial. Tentu di luar ritual yang sejak dahulu juga nafsi-nafsi–masing-masing–tetapi tiada ada masalah yang krusial seperti sekarang kerap menjadi masalah dan kerisauan. Termasuk soal memberikan ucapan selamat hari raya Imlek. Termasuk ke sebelah sana, mengucapkan selamat hari raya Natal dan tahun baru Masehi.

Baca Juga:  "Demokrasi Gejet"

Nikmat hidup terasa jika kita melebur dalam cita-rasa persaudaraan. Ibarat ikan di laut, bisa bergaul dengan berbagai jenis ekosistemnya, tetapi dagingnya tetap tawar–tidak lantas larut dalam konstituen air asin. Justru si ikan akan moncer rasanya jika bertaut dengan asam di gunung, dan rempah-rempah dari daratan, sehingga berjodoh di periuk, belanga atau santap bersama.

Kehidupan mengajarkan kearifan, tanpa kehilangan identitas masing-masing, termasuk iman dan kepercayaan masing-masing.

Pak Alau dan Maknyah sekeluarga besar tetap beranak pinak dengan damai. Kami juga demikian. Spiritualitas justru mendukung terwujudnya toleransi tanpa mengadaikan akidah.

Serasa saya, dalam perjalanan hidup berjunalisme ria–interaksi mesra antara-etnis dan agama, bahkan bangsa-bangsa bukan mengeliminasi iman dan keyakinan beragama, tetapi justru memperkuatnya. Begitu pengalaman saya. Sekedar berbagi cerita damai bagi kami sejak tempo doeloe di Sungai Raya. Pesan yang sama semoga terpencar ke Nusantara dan selurus penjuru dunia.

Selamat Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ini, Jumat, 12 Februari 2021 bagi kolega, sahabat, dan mitra di mana saja berada dan merayakannya. Semoga panjang umur, murah rezeki, sehat sebangsa-setanah air, sesama umat manusia. *

Baca Juga:  Saat Virus Covid-19 Memelukku

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IMG 20210211 WA0030

Hari Ini 71th Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila

prof chairil

Ngopi Pagi MABM