Oleh: Dr Leo Sutrisno
Kali ini di layar plasma langit ditayangkan apa yang kulakukan di hari Kartini tahun pertama di kecamatan lokasi PTT. Panitia mendaulatku sebagai nara sumber utama pada ‘seminar’ memperingati kelahiran R. A. Kartini.
Setelah sejenak berbasa-basi aku masuk dalam paparan, “Ibu-ibu dan adik-adik Kartini milenial. Sesungguhnya, tidak ada yang istimewa dalam diri saya. keluarga saya tidak berbeda dengan sebagian besar keluarga ibu-ibu di sini. Kami tinggal di sebuah desa pedalaman Pulau Jawa”.
“Dari SMP hingga lulus kedokteran, saya sekolah di kota yang berjarak sekitar 26 km dari rumah. Tinggal di sebuah kamar sewaan sederhana dan memasak sendiri. Tiap Sabtu sore, pulang ke desa dan kembali ke kota Minggu sore untuk mengambil sembako yang sudah disiapkan ibu untuk keperluan satu minggu. Tentu tidak naik motor. Naik sepeda kayuh. Perlu waktu sekitar 2.5 jam”
“Bapak petani. Sawah ditanami padi sepanjang tahun. Berbeda dari para petani yang lain, bapak membuat pematang lebar-lebar. Di sepanjang pematang itu ditanami berbagai macam sayuran. Karena itu, beras dan sayur tidak menjadi masalah. Semua dapat dipenuhi dari sawah”.
