“O, ya” Jawab saya. “Betul!. Mbak, kita tidak jauh berbeda. Sejak dari SMP, ada seorang dermawan yang membiayai sekolah saya. Sayang dermawan itu hingga kini tidak saya ketahui. Ketika lulus SMA saya berkirim surat ke beliau, lewat kepala sekolah, memberitahukan bahwa saya akan mencari pekerjaan agar kelak saya dapat sedikit demi sedikit ‘mengembalikan’ uang yang telah digunakan untuk membiayai saya. Tetapi, saya dapat surat kecil. Ini isinya, ‘Nak, engkau tidak perlu mengembalikan langsung uang itu kepadaku. Sekolahmu lancar aku sudah bahagia. Kembalikan uang itu lewat orang-orang yang pantas engkau bantu, kelak. Agar kembalian itu berlimpah-limpah, jadilah dokter dulu. Masuklah Fakultas Kedokteran. Semua sudah diurus bapak Kepala Sekolah. biaya sudah disiapkan’. Itu, Mbak, penjelasannya”
Kudengar, para ibu saling berbisik “O, hebat, ya. Pantesan ia juga suka membantu kita, ya”.
“Dokter,” Sela Bu Camat. “Walau kita sudah sering ketemu dalam rapat-rapat MUSPIKA, saya belum pernah mendengar Dokter bercerita mengapa memilih PTT di kecmatan kami, di kepualauan terluar lagi terpencil ini?! Padahal, banyak tempat lain yang jauh lebih baik daripada di sini?”
