“Lauk?!”, jeda sejenak, “Bersama-sama bumbu dapur dan keperluan sehari-hari yang lain dibereskan ibu. Ia berjuaalan beras di pasar. Tentu bukan beras hasil panen sendiri, tetapi beras dari tetangga. Tiap sore ibu berkeliling dari kampung ke kampung, membeli satu dua kilo beras mereka. Pagi hari berikutnya digendongnya ke pasar. Tidak banyak, hanya sekitar 25-30 kg Jika hari libur, saya atau adik-adik membantu, membawa sekitar 20 kg”
“Apa yang saya dapat dari kehidupan kedua orang tua kami? Mereka bekerja dengan komitmen dan hati tulus. Misalnya, jika sore ibu tidak mendapatkan dagangan, pada pukul 02:00 mereka sudah menumbuk padi simpanan sendiri Sebagai pengganti dagangan”.
“Pelajaran lain? Ketika saya tanya mengapa tidak membuka kios beras padahal pelanggan melimpah, ibu mengatakan, ‘Dengan menjual 30-50 kg beras tiap hari sudah cukup. Selebihnya agar menjadi rejeki orang lain. Hidup kita terbatas. Tidak cukup dihadapi dengan hitungan nalar. Tetapi, dengan hati”
“Sampai di sini Ibu-Ibu dan adik-adik Kartini milenial, dari saya!”
“Tanya Bu Dokter, boleh?” seorang Kartini milenial mengangkat tangannya. Moderator mengangguk, ia melanjutkan, “Orang tua Ibu miskin, maaf, seperti orang kami. Kenapa bisa menjadi dokter? Katanya, biaya kuliah di Kedokteran itu mahal!”
