Opini

Hari Kartini

Hari Kartini
Dr Leo Sutrisno

“Baik, Bu Camat. Kalau saya hanya menggunakan pertimbangan akal, memang betul kata Ibu. Di tempat lain banyak yang lebih bagus. Tetapi, saya lebih banyak menggunakan hati, seperti yang dilakukan orang tua kami Bu Camat. Di sini mungkin saya dapat memberikan sesuatu yang lebih ketimbang di tempat lain, Bu Camat. Saya berharap begitu. Semoga.”

Bu Camat berdiri dan bertepuk tangan, memberi apresiasi, diikuti semua yang hadir.

Sore hari, saya kembali duduk-duduk di bebatuan sekeliling sumber air di lereng bukit belakang rumah. Semburat cahaya kemerahan di balik bukit memberi isyarat yang menguatkan pilihanku. Aku bisa memberi dengan melimpah kepada mereka. Bukan harta tetapi hati.

Mereka semua adalah orang tua dan saudaraku. Mereka semua keluargaku. Sakit yang mereka rasakan juga kurasakan. Kegembiraan yang mereka alami juga turut kualami.

Tuhan telah memiliki rencana yang paling baik untuk setiap ciptaan-Nya. Aku tidak perlu risau. Ku jalani seperti air mengalir. Tidak ada yang dapat menghalangi. Air terus mengalir ke arak Samudera-Nya. Semua bergerak mengarah kepada-Nya

Mars apel senja terompet ‘tonggeret’-Cicadoidea- dari pucuk-pucuk nyiur mengangkasa, bergulungan dengan mega-mega putih menyebar ke seluruh batas langit, menutup siang membuka malam. Layar plasma langit pun hilang ditelannya.

Pakem Tegal, Yogya. 27-4-2020