Opini

In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

“Dan ternyata,” ungkapnya dengan mata berbinar, “di kalangan orang-orang Persia, saya menemukan khazanah tasawuf yang sangat kaya. Jadi saya mulailah tertarik tasawuf”.

Mengapa menjadi Syiah

Kembali dari Iran, Jalaluddin — yang di masa mudanya sudah membaca karya-karya filosof Baruch Spinoza (1632-1677) dan Friedrich Nietzsche (1844–1900) di perpustakaan negeri peninggalan Belanda — mendirikan yayasan tasawuf.

“Dalam tasawuf, seluruh agama bertemu, bukan hanya seluruh mazhab Islam,” katanya.

Menurutnya, dalam ranah tawasuf atau mistisisme, semua penganut agama akan mengatakan ‘kayaknya kita saling mengenal, kayaknya kita adalah bagian dari keluarga besar, yang menegakkan agama atas dasar cinta’.

Kepada saya, Jalaluddin menekankan bahwa “saya tidak bermaksud mengajarkan Syiah dalam tasawuf, karena menurut saya, tasawuf itulah yang mempersatukan Sunni dan Syiah,” tegasnya.

“Jadi arah saya dari dulu, kepada persatuan kelompok Sunni dan Syiah,” katanya lagi.

Belakangan, persisnya pada Mei 2011 lalu, Jalaluddin dan beberapa orang mendirikan Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia, Muhsin, pada Mei 2011 lalu, untuk mendekatkan dua mazhab Islam tersebut.

Namun demikian, ketika mempelajari dan mendalami dunia tasawuf itulah, Jalaluddin mengatakan: “Karena Syiah di sini minoritas, saya tentu berusaha mengenalkan Syiah ini, tidak seperti yang mereka tuduhkan”.