Opini

In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

Dalam berbagai kesempatan, Jalaluddin mengaku dibesarkan dalam keluarga Nahdiyyin (NU), kemudian sempat terlibat dalam aktivitas yang berorientasi pada Muhammadiyah, sebelum mendalami tasawuf dan akhirnya menganut Islam dengan mazhab Syiah.

“Ketika muda, saya memang dibesarkan dari keluarga NU, dan saya pergi ke kota dan bergabung dengan orang Muhammadiyah,” ungkapnya, mulai bercerita.

Ketika aktif di Muhammadiyah, Jalaluddin mengikuti gerakan-gerakan “yang saya sebut Islam-siasi, yaitu Islam politik, di mana saya ingin mendirikan syariat Islam di negeri ini”.

Namun demikian, Jalaluddin muda mengaku berulangkali kecewa, karena “di berbagai negara Islam, tidak ada yang berhasil mendirikan Syariat Islam”.

Di tengah situasi seperti itulah, Jalaluddin mengaku takjub ketika terjadi peristiwa penting di Iran pada 1979, yaitu runtuhnya rezim monarki otoriter Raja Shah Pahlavi oleh apa yang disebut belakangan sebagai Revolusi Islam Iran.

“Tiba-tiba saya melihat para ulama di Iran menang. Kok bisa ulama Iran bisa memenangkan sebuah pertarungan poltik dan bisa mendirikan negara Islam? Wah itu menginspirasi saya yang saat itu sudah putus asa,” jelasnya.

Dalam perjalanannya, dia kemudian berangkat ke Iran, persisnya ke kota Qum, untuk belajar tasawuf. “Saya tidak belajar Syiah, saya belajar tasawuf di Qum.”