
Hal lain terasa indah melebihi semua itu adalah kebersamaan. Walau non seat, saya lahap makan nasbung. Begitupun para sopir truk dan kondektur. Non seat GPP. Mereka duduk di atas kap truk box. Gelar tikar. Saat Ferry bergerak menjauh, angin sepoi-sepoi basah, makanan pun digelar. Mereka tudang sipulung. Eating together…sebuah pemandangan humanis rrrruar biasa. “Makan Pak yuk?” Tawar mereka. Sudah kata saya. Barusan selesai melunasi nasi bungkus bekalan dari kawan di Teluk Batang tadi.
Wak, terus terang, sisi humanis ini tak saya dapatkan di kelas 1 Garuda. Dan ini jadi catatan kaki tersendiri. Bahwa keindahan dan kebahagiaan tak selalu dan melulu datang dari luxury serta kemewahan. Apa adanya pun cukup lapang, riang, n happiness jika kita saling sapa, tolong menolong dan banyak bersyukur. *
