Malam Natal 2025 terasa begitu dingin di ruang tamu yang hanya diterangi lampu pohon Natal kecil. Pak Tua duduk di kursi goyangnya, menatap bingkai foto perak di atas perapian.
Pak Tua: “Dik, kau lihat itu? Pohonnya masih miring ke kanan, persis seperti caramu memasangnya dulu. Aku tidak pernah bisa memperbaikinya.”
Ia menghela napas panjang, jemarinya yang gemetar menggenggam secarik kertas dari bank.
Suara Istri (Imajiner): “Kau selalu payah dalam urusan dekorasi, Mas. Tapi bukan itu yang membuat bahumu lunglai malam ini, kan? Ada apa?”
Pak Tua: (Tersenyum getir) “Kau selalu tahu. Tadi siang, aku pergi ke bank. Niatnya ingin mengambil sedikit simpanan untuk membelikan cucu-cucu kita sepeda baru. Hadiah Natal terakhir dari kakeknya, pikirku.”
Suara Istri: “Lalu? Kenapa wajahmu seperti baru saja melihat hantu?”
Pak Tua: “Kosong, Dik. Semuanya. Saldo tabungan pensiun yang kita kumpulkan puluhan tahun… lenyap. Seseorang menelepon tempo hari, mengaku dari kantor pusat. Aku bodoh, aku memberikan kode itu. Dalam sekejap, ‘hadiah’ Natal yang kuterima tahun ini adalah angka nol di buku tabungan.”
Suara Istri: “Oh, Mas…”
Pak Tua: “Aku merasa gagal. Aku ingin memarahi diriku sendiri di depanmu. Itu uang yang kita sisihkan dengan tidak membeli baju baru selama bertahun-tahun. Sekarang aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada anak-anak.”
Suara Istri: (Lembut, seolah ada belaian di bahunya) “Lihat aku, Mas. Lihat foto itu. Apa kau ingat Natal tahun ‘2002 saat kita hanya makan mi instan karena uangmu hilang kecopetan?”
Pak Tua: “Aku ingat. Aku menangis malam itu.”
Suara Istri: “Dan apa aku marah? Tidak. Kita tetap tertawa karena anak-anak malah senang bisa makan mi sepuasnya. Uang itu memang jahat pencurinya, tapi uang bukan warisanmu yang sebenarnya. Warisanmu adalah kau masih di sini, masih mengingatku, dan masih punya cinta untuk mereka.”
Pak Tua: “Tapi ini tabungan pensiun kita, Dik… satu-satunya peganganku.”
Suara Istri: “Peganganku selalu tanganmu, bukan buku tabungan itu. Besok, datanglah ke rumah anak-anak. Ceritakan sejujurnya. Mereka tidak butuh sepeda baru, mereka butuh ayahnya tidak menyiksa diri sendiri di malam suci ini. Jangan biarkan pencuri itu mengambil Natalmu juga.”
Pak Tua terdiam. Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya yang keriput. Ia berdiri, mematikan lampu pohon Natal, lalu mengelus kaca bingkai foto itu.
Pak Tua: “Kau benar. Dia boleh mengambil uangnya, tapi dia tidak bisa mengambil kenanganku bersamamu. Selamat Natal, Puji. Aku akan tidur sekarang, dan besok… aku akan memberikan mereka pelukan, sebagai gantinya.”
Di salah satu halaman buku harian lelaki tua itu tergores sebuah puisi tentang natalnya,
Di depan nisanmu yang putih, Maria,
Aku duduk dengan lutut yang kian gemetar.
Bunga krisan ini kubeli dengan keping terakhir,
Di saku jas tua yang dulu kita pilih bersama untuk hari tua.
Tuhan memberi, Tuhan mengambil, begitu kata Romo,
Namun hatiku sesak oleh tanya yang tak kunjung padam.
Tabungan masa pensiun, hasil peluh kita puluhan tahun,
Raib ditelan jemari asing di balik layar digital yang dingin.
Aku merasa seperti Petrus yang tenggelam di tengah badai,
Kehilangan pegangan saat perahu kecil kita bocor seketika.
Uang itu bukan sekadar angka bagi masa depanku,
Tapi janji untuk tabung oksigen dan misa arwahmu yang syahdu.
Kini aku berdiri telanjang di hadapan salib-Mu, Tuhan,
Hanya membawa sisa nafas dan kenangan tentangnya.
Apakah kemiskinan ini adalah jalan salib yang harus kupanggul?
Atau ujian untuk melihat apakah aku masih mampu mengucap “Amin”?
Istriku, maafkan aku yang tak pandai menjaga bekal kita.
Di makammu ini, aku belajar lagi tentang arti “Harianlah Rezeki Kami”.
Dunia mungkin merampas hartaku hingga nol tak bersisa,
Namun mereka tak bisa mencuri tempatku di sampingmu nanti, di keabadian.
Requiem aeternam dona ei, Domine.
Bantulah hamba-Mu yang renta ini mencukupkan diri dengan kasih-Mu saja.
Pakem, 24 Des 25. ls
