Malam Natal 2025 terasa begitu dingin di ruang tamu yang hanya diterangi lampu pohon Natal kecil. Pak Tua duduk di kursi goyangnya, menatap bingkai foto perak di atas perapian.
Pak Tua: “Dik, kau lihat itu? Pohonnya masih miring ke kanan, persis seperti caramu memasangnya dulu. Aku tidak pernah bisa memperbaikinya.”
Ia menghela napas panjang, jemarinya yang gemetar menggenggam secarik kertas dari bank.
Suara Istri (Imajiner): “Kau selalu payah dalam urusan dekorasi, Mas. Tapi bukan itu yang membuat bahumu lunglai malam ini, kan? Ada apa?”
Pak Tua: (Tersenyum getir) “Kau selalu tahu. Tadi siang, aku pergi ke bank. Niatnya ingin mengambil sedikit simpanan untuk membelikan cucu-cucu kita sepeda baru. Hadiah Natal terakhir dari kakeknya, pikirku.”
Suara Istri: “Lalu? Kenapa wajahmu seperti baru saja melihat hantu?”
Pak Tua: “Kosong, Dik. Semuanya. Saldo tabungan pensiun yang kita kumpulkan puluhan tahun… lenyap. Seseorang menelepon tempo hari, mengaku dari kantor pusat. Aku bodoh, aku memberikan kode itu. Dalam sekejap, ‘hadiah’ Natal yang kuterima tahun ini adalah angka nol di buku tabungan.”
Suara Istri: “Oh, Mas…”

Penuh makna dan menyentuh hati.
Semoga sehat dan bahagia selalu, Pak.