Pak Tua: “Kau benar. Dia boleh mengambil uangnya, tapi dia tidak bisa mengambil kenanganku bersamamu. Selamat Natal, Puji. Aku akan tidur sekarang, dan besok… aku akan memberikan mereka pelukan, sebagai gantinya.”
Di salah satu halaman buku harian lelaki tua itu tergores sebuah puisi tentang natalnya,
Di depan nisanmu yang putih, Maria,
Aku duduk dengan lutut yang kian gemetar.
Bunga krisan ini kubeli dengan keping terakhir,
Di saku jas tua yang dulu kita pilih bersama untuk hari tua.
Tuhan memberi, Tuhan mengambil, begitu kata Romo,
Namun hatiku sesak oleh tanya yang tak kunjung padam.
Tabungan masa pensiun, hasil peluh kita puluhan tahun,
Raib ditelan jemari asing di balik layar digital yang dingin.
Aku merasa seperti Petrus yang tenggelam di tengah badai,
Kehilangan pegangan saat perahu kecil kita bocor seketika.
Uang itu bukan sekadar angka bagi masa depanku,
Tapi janji untuk tabung oksigen dan misa arwahmu yang syahdu.
Kini aku berdiri telanjang di hadapan salib-Mu, Tuhan,
Hanya membawa sisa nafas dan kenangan tentangnya.
Apakah kemiskinan ini adalah jalan salib yang harus kupanggul?
Atau ujian untuk melihat apakah aku masih mampu mengucap “Amin”?

Penuh makna dan menyentuh hati.
Semoga sehat dan bahagia selalu, Pak.