Pak Tua: “Aku merasa gagal. Aku ingin memarahi diriku sendiri di depanmu. Itu uang yang kita sisihkan dengan tidak membeli baju baru selama bertahun-tahun. Sekarang aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada anak-anak.”
Suara Istri: (Lembut, seolah ada belaian di bahunya) “Lihat aku, Mas. Lihat foto itu. Apa kau ingat Natal tahun ‘2002 saat kita hanya makan mi instan karena uangmu hilang kecopetan?”
Pak Tua: “Aku ingat. Aku menangis malam itu.”
Suara Istri: “Dan apa aku marah? Tidak. Kita tetap tertawa karena anak-anak malah senang bisa makan mi sepuasnya. Uang itu memang jahat pencurinya, tapi uang bukan warisanmu yang sebenarnya. Warisanmu adalah kau masih di sini, masih mengingatku, dan masih punya cinta untuk mereka.”
Pak Tua: “Tapi ini tabungan pensiun kita, Dik… satu-satunya peganganku.”
Suara Istri: “Peganganku selalu tanganmu, bukan buku tabungan itu. Besok, datanglah ke rumah anak-anak. Ceritakan sejujurnya. Mereka tidak butuh sepeda baru, mereka butuh ayahnya tidak menyiksa diri sendiri di malam suci ini. Jangan biarkan pencuri itu mengambil Natalmu juga.”
Pak Tua terdiam. Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya yang keriput. Ia berdiri, mematikan lampu pohon Natal, lalu mengelus kaca bingkai foto itu.

Penuh makna dan menyentuh hati.
Semoga sehat dan bahagia selalu, Pak.